Arsenal Dikabarkan Siap Lepas Gyokeres, Empat Klub Eropa dan Arab Sudah Jajaki
Baca dalam 60 detik
- Viktor Gyokeres dilaporkan merasa tidak dihargai setelah tersingkir dari starting XI Arsenal, dan perwakilannya telah menggelar pembicaraan awal dengan AC Milan, Juventus, Al-Ahli, serta Al-Ittihad.
- Meski Arsenal enggan melepas karena kontrak lima tahun dan peran dalam gelar musim lalu, kebutuhan akan menit bermain reguler menjelang Piala Dunia 2026 dapat memaksa Gyokeres hengkang pada Januari.
- Situasi ini menjadi alarm bagi klub-klub Indonesia yang merekrut pemain asing: ketidakpastian menit bermain bisa memicu eksodus serupa, sementara Arsenal harus menjaga harmoni skuad di tengah jadwal padat.

Arsenal menghadapi dilema tak terduga di tengah start sempurna mereka di Premier League: striker mahal Viktor Gyokeres dikabarkan merasa tidak dihargai dan perwakilannya telah menjajaki kemungkinan hengkang pada bursa Januari. Menurut laporan Mark Brus dari The Daily Briefing, pembicaraan awal telah dilakukan dengan AC Milan, Juventus, Al-Ahli, dan Al-Ittihad—meski belum ada kontak resmi antarklub.
Kepercayaan diri Arsenal musim ini memang luar biasa. Empat kemenangan beruntun di liga, hanya kebobolan satu gol, plus kemenangan 1-0 di markas Napoli di Liga Champions dan rotasi besar saat mengalahkan Ipswich Town 4-2 di Carabao Cup, menunjukkan kedalaman skuad yang mengesankan. Namun, di balik performa apik itu, muncul masalah klasik: kompetisi internal yang ketat membuat seorang pemain bintang harus rela mengorbankan menit bermain.
Gyokeres, yang didatangkan dari Sporting pada 2025 dengan kontrak lima tahun, kini berada di bawah Kai Havertz dalam hierarki penyerang Mikel Arteta. Ia hanya tampil di kompetisi cup, sementara Havertz dipercaya di liga. Situasi ini memicu spekulasi bahwa sang pemain asal Swedia itu mulai mencari jalan keluar. Bahkan, Piers Morgan sempat menyebut Gyokeres sangat tidak bahagia dan merasa disrespected.
Dari sudut pandang Arsenal, tidak ada tekanan finansial untuk menjual. Gyokeres masih terikat kontrak panjang dan berperan dalam keberhasilan meraih gelar musim lalu. Arteta pun sadar bahwa cedera atau penurunan performa bisa mengubah urutan penyerang dalam sekejap. Namun, mempertahankan pemain yang tidak puas bisa merusak harmoni ruang ganti—terutama ketika tim sedang dalam momentum positif.
"Gyokeres merasa tidak tenang dan tidak dihargai," tulis Brus, mengutip sumber di sekitar pemain. "Pembicaraan di level agen sudah terjadi, dan jika perannya tidak membaik, situasinya bisa berkembang lebih serius."
Bagi klub-klub Indonesia, kasus Gyokeres menjadi cermin. Liga 1 kerap menghadapi situasi serupa ketika pemain asing merasa tidak mendapatkan menit bermain yang cukup, lalu memilih hengkang di jendela transfer berikutnya. Klub-klub seperti Persija, Persib, atau Bali United perlu belajar dari Arsenal: mengelola ego pemain bintang sama pentingnya dengan merancang strategi di lapangan. Komunikasi yang transparan dan rotasi yang adil bisa mencegah eksodus yang merugikan.
Di sisi lain, ketertarikan klub-klub Arab Saudi menunjukkan bahwa daya tarik finansial mereka masih magnet bagi pemain Eropa yang ingin jaminan bermain dan bayaran tinggi. Jika Gyokeres benar-benar pindah ke Al-Ahli atau Al-Ittihad, itu akan menjadi pukulan gengsi bagi Arsenal, tetapi juga pengingat bahwa proyek olahraga di Timur Tengah semakin agresif.
Hingga Januari, Gyokeres masih punya waktu untuk membalikkan keadaan. Peluang di Carabao Cup dan Liga Champions bisa menjadi panggung pembuktian. Namun, jika ia tetap tersisih, pembicaraan yang kini baru sebatas obrolan agen bisa berubah menjadi negosiasi serius. Akankah Arsenal mempertahankan pemain yang tidak bahagia demi kedalaman skuad, atau melepasnya untuk menjaga keharmonisan? Keputusan ini akan menguji ketajaman manajemen Arteta di bursa transfer musim dingin.



