Dari Tragedi ke Panggung Dunia: Kisah Aymen Hussein, Pencetak Gol Bersejarah Irak
Baca dalam 60 detik
- Aymen Hussein mencetak gol pertama Irak di Piala Dunia setelah 40 tahun absen, meski timnya kalah 4-1 dari Norwegia.
- Perjalanan hidupnya penuh tragedi: ayah tewas ditembak Al-Qaeda, kakak diculik, namun ibunya mendorongnya terus bermain.
- Golnya membuktikan ketangguhan mental setelah melewati cedera, minim menit bermain, dan sempat ditahan di imigrasi AS.

Gol sundulan Aymen Hussein ke gawang Norwegia bukan sekadar angka 1-1 di papan skor, melainkan puncak dari perjalanan hidup yang diwarnai tragedi, perang, dan tekad seorang ibu. Striker Irak itu mencatatkan namanya dalam sejarah ketika negaranya kembali ke Piala Dunia setelah empat dekade, meski pada akhirnya timnya harus mengakui keunggulan Norwegia 4-1.
Bagi Irak, gol tersebut adalah gol kedua mereka sepanjang partisipasi di Piala Dunia. Namun, di balik torehan itu, tersimpan kisah pilu yang membentuk karakter Hussein. Ia kehilangan ayahnya yang seorang tentara pada usia 12 tahun, ditembak Al-Qaeda saat membeli bahan bangunan. Beberapa tahun kemudian, kakaknya diculik dan tak pernah kembali. Hussein nyaris meninggalkan sepak bola untuk mencari nafkah, tetapi ibunya bersikeras agar ia terus mengejar mimpi.
โSaya memutuskan berhenti bermain untuk merawat keluarga, tapi ibu saya menolak,โ kenang Hussein dalam sebuah wawancara. Dorongan sang ibulah yang membawanya ke panggung terbesar sepak bola dunia.
Jalan Hussein menuju Piala Dunia juga diwarnai insiden tak terduga. Saat tiba di Amerika Serikat untuk turnamen, ia ditahan selama tujuh jam di Bandara O'Hare Chicago sebelum akhirnya diizinkan masuk. Berbeda dengan fotografer tim Irak, Talal Salah, yang tidak diizinkan masuk. Namun, semua rintangan itu sirna saat ia melompat menyundul bola melewati kiper Norwegia, Orjan Nyland.
Pelatih Irak, Graham Arnold, memuji ketangguhan anak asuhnya. โIa tipe pemain yang sulit dikontrol di kotak penalti. Saya sangat bangga padanya,โ ujar Arnold. Ia juga mengungkapkan bahwa Hussein bermain dengan cedera sepanjang musim, tetapi tetap tampil penuh energi selama 90 menit.
Bagi Indonesia, kisah Hussein menjadi cermin bagaimana sepak bola bisa menjadi alat pemersatu di tengah konflik. Irak, yang sempat terpuruk dalam kekerasan sektarian, berhasil melahirkan pemain kelas dunia dari puing-puing tragedi. Pelajaran ini relevan bagi sepak bola Indonesia yang juga bergulat dengan masalah internal dan minimnya prestasi di level internasional.
Kini, dengan satu gol di panggung dunia, Hussein telah menginspirasi jutaan anak muda Irak. Pertanyaannya, mampukah ia dan Irak melangkah lebih jauh di Grup I yang berat? Jika performa seperti melawan Norwegia bisa dipertahankan, bukan tidak mungkin kejutan lain akan tercipta.



