Warga Malaysia Dapat Penghargaan karena Bantu Polisi Singapura Temukan Kapal Curian
Baca dalam 60 detik
- Dua nelayan Malaysia menerima penghargaan dari Kepolisian Singapura setelah melaporkan kapal mencurigakan di perairan Malaysia.
- Informasi yang diberikan memungkinkan Polisi Pantai Singapura dan Polisi Malaysia mengembalikan kapal mewah yang dilaporkan hilang.
- Kasus ini menunjukkan efektivitas kerja sama lintas batas antara Singapura dan Malaysia dalam penegakan hukum maritim.

Dua warga negara Malaysia, Muhammad Azrie Manab dan Khairil Faizal Othman, mendapat penghargaan SaferSG Public Spiritedness Award dari Kepolisian Singapura pada 16 Juni lalu. Penghargaan itu diberikan setelah mereka membantu Polisi Pantai Singapura (PCG) menemukan sebuah kapal mewah yang dilaporkan dicuri di perairan Malaysia.
Azrie, seorang nelayan, pertama kali mencurigai sebuah kapal pesiar berbendera Singapura yang ditambatkan di pelampung tambat di perairan Malaysia pada 2 Juni. Menurut keterangan polisi, keberadaan kapal tersebut dianggap tidak lazim sehingga Azrie memotretnya dan membagikan foto itu kepada sepupunya, Khairil. Khairil kemudian mendatangi kapal patroli PCG pada hari yang sama dan melaporkan temuan tersebut.
Informasi yang cepat dan tepat itu menjadi kunci bagi PCG untuk melacak dan menemukan kapal yang hilang tersebut. Kapal itu diketahui dicuri pada hari yang sama. Dengan bantuan Polisi Diraja Malaysia (PDRM) melalui Pasukan Polisi Maritim, PCG berhasil mengambil alih kapal dan mengembalikannya kepada pemilik sah.
Dalam upacara penghargaan yang digelar di laut, Komandan PCG Ang Eng Seng menyampaikan apresiasinya. Ia menekankan bahwa pelaku kejahatan sering memanfaatkan batas yurisdiksi untuk menghindari hukum. โDengan bekerja sama erat dengan mitra dan masyarakat di Malaysia, kami dapat memperpanjang jangkauan keadilan melintasi perbatasan dan membantu lebih banyak korban kejahatan,โ ujar Ang. Ia menambahkan bahwa kasus ini menjadi contoh sukses kemitraan lintas yurisdiksi antara Singapura dan Malaysia.
Bagi Indonesia, kerja sama semacam ini relevan mengingat banyaknya kasus pencurian kapal dan kejahatan maritim di perairan regional. Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, juga memiliki tantangan serupa dalam pengawasan laut. Keberhasilan dua negara tetangga ini bisa menjadi model bagi penguatan kerja sama maritim Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya. Polisi Singapura pun mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan kapal atau aktivitas mencurigakan di laut.
Hingga berita ini diturunkan, penyelidikan lebih lanjut masih berlangsung. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan mendorong peningkatan patroli bersama dan pertukaran informasi intelijen maritim di kawasan? Jika iya, maka kolaborasi seperti ini bisa menjadi preseden positif bagi keamanan laut Asia Tenggara.



