Jerman Kenakan Jersey Retro 1990 di Laga Pertama Era Klopp, Sinyal Perpisahan dengan Adidas
Baca dalam 60 detik
- DFB memastikan timnas Jerman akan tampil dengan replika kostum tandang Piala Dunia 1990 saat menghadapi Belanda di Liga Negara UEFA, 24 September.
- Laga di Amsterdam menjadi debut Jürgen Klopp sebagai pelatih dan sekaligus penanda berakhirnya kerja sama 77 tahun bersama Adidas.
- Nike resmi mengambil alih penyediaan perlengkapan timnas Jerman mulai 2025 hingga minimal 2034, mengakhiri era Adidas.

Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) mengonfirmasi bahwa timnas Jerman akan mengenakan versi retro dari jersey tandang Piala Dunia 1990 pada pertandingan Liga Negara UEFA melawan Belanda di Amsterdam, 24 September mendatang. Laga tersebut menjadi penampilan perdana Jürgen Klopp sebagai pelatih kepala, sekaligus momen bersejarah karena menjadi salah satu pertandingan terakhir Jerman bersama Adidas setelah 77 tahun bermitra.
Keputusan ini diumumkan bersamaan dengan pengumuman dua skuad terpisah untuk empat laga Liga Negara UEFA yang akan datang. Jersey retro tersebut merupakan bagian dari koleksi Bringback yang diluncurkan Adidas menjelang Piala Dunia 2026, menampilkan lima desain ikonik dari kostum Jerman masa lalu, termasuk strip tandang 1990 yang dikenang saat Jerman menjuarai Piala Dunia di Italia, termasuk kemenangan adu penalti atas Inggris di semifinal.
Bagi DFB, ini bukan sekadar peluncuran produk. Jersey tersebut menjadi simbol perpisahan dengan Adidas, yang akan mengakhiri kerja sama pada akhir tahun ini. Seperti diketahui, pada Maret 2024 lalu, Nike secara resmi diumumkan akan mengambil alih tanggung jawab menyediakan perlengkapan timnas Jerman setidaknya hingga 2034. Laga melawan Belanda di Berlin pada 16 November nanti akan menjadi penampilan terakhir Jerman dengan kostum Adidas.
Klopp, yang baru saja diperkenalkan sebagai pelatih, menyatakan bahwa pemilihan jersey ini bukan sekadar nostalgia. "Kami ingin menghormati sejarah, tetapi juga menatap masa depan," ujarnya dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa momen ini tepat untuk menginspirasi generasi baru pemain dan penggemar. Pernyataan tersebut sejalan dengan strategi DFB yang ingin tetap relevan di pasar global, terutama menjelang Piala Dunia 2026.
Dari perspektif bisnis olahraga, peralihan ke Nike menandai babak baru dalam pemasaran timnas Jerman. Adidas, yang berbasis di Jerman, telah menjadi identitas tim selama puluhan tahun. Namun, nilai kontrak yang ditawarkan Nike disebut jauh lebih besar, mencerminkan persaingan sengit antara dua raksasa apparel tersebut. Bagi penggemar di Indonesia, jersey retro ini kemungkinan akan menjadi buruan kolektor, mengingat popularitas sepak bola Jerman dan sejarahnya yang kaya.
"Ini adalah akhir dari sebuah era, tetapi juga awal dari yang baru. Kami berterima kasih kepada Adidas atas segalanya," kata Presiden DFB, Bernd Neuendorf, dalam pernyataan terpisah.
Di sisi lain, laga melawan Belanda akan menjadi ujian taktis bagi Klopp. Ia harus membuktikan bahwa dirinya mampu membawa Jerman kembali bersaing di level tertinggi setelah beberapa tahun terakhir tampil inkonsisten. Dua skuad yang dipanggil menunjukkan bahwa Klopp ingin memberikan kesempatan kepada pemain muda sekaligus menjaga pengalaman. Publik Indonesia yang mendukung Jerman tentu berharap era Klopp membawa perubahan positif.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah peralihan ke Nike akan mempengaruhi identitas visual timnas Jerman yang selama ini lekat dengan tiga garis khas Adidas. Nike diprediksi akan menghadirkan desain baru yang tetap menghormati tradisi. Sementara itu, laga pada 16 November di Berlin akan menjadi momen emosional bagi para penggemar yang telah lama mengasosiasikan Jerman dengan Adidas. Akankah jersey retro ini menjadi koleksi terakhir yang paling dicari? Waktu yang akan menjawab.



