Krisis Pendidikan Global: Drama Korea ‘Teach You a Lesson’ Puncaki Netflix, Pukul Realitas Sistem Sekolah
Baca dalam 60 detik
- Serial Netflix asal Korea Selatan, Teach You a Lesson, langsung memuncaki peringkat global non-Inggris dalam sepekan, mengadaptasi webtoon populer Get Schooled.
- Drama ini menyoroti keruntuhan otoritas guru dan meningkatnya kekerasan sekolah, dengan unit vigilante fiktif yang menawarkan keadilan instan—sebuah fantasi yang laris di tengah krisis pendidikan nyata.
- Kepopulerannya di Asia, termasuk viral saat ujian nasional China, mencerminkan keresahan orang tua dan pendidik terhadap tekanan kompetitif dan kegagalan sistem melindungi korban.

Hanya dalam sepekan setelah dirilis, drama Korea terbaru Netflix, Teach You a Lesson, sukses merebut posisi puncak tangga lagu global non-Inggris pada pekan pertama Juni 2025. Adaptasi dari webtoon Get Schooled (2020) ini bukan sekadar tontonan aksi yang memuaskan—ia mengupas luka sistem pendidikan yang mulai membusuk.
Serial sepuluh episode garapan Hong Jong-chan ini mengisahkan unit vigilante bentukan pemerintah, Biro Perlindungan Hak Pendidikan (ERPB), yang diberi kewenangan luar biasa untuk menangani sekolah bermasalah. Dipimpin Na Hwa-jin, mantan kapten pasukan khusus, tim ini bergerak di luar jalur hukum formal ketika institusi pendidikan gagal melindungi siswanya. Setiap episode menghadirkan kasus perundungan, korupsi akademik, penyalahgunaan narkoba, hingga eksploitasi guru—sebagian diangkat dari insiden nyata, seperti kasus guru muda di Seoul yang bunuh diri setelah diteror orang tua murid pada 2023.
Di balik adegan aksi yang sinematik dan dialog heroik, drama ini mengajukan pertanyaan mendasar: untuk apa sebenarnya pendidikan, ketika ruang kelas justru menjadi medan kekerasan dan ketidakadilan? Menteri Pendidikan fiktif, Choi Gang-seok, mendirikan ERPB setelah putrinya yang seorang guru tewas dibunuh murid. “Kami tidak berada di pihak guru atau siswa. Kami di pihak korban,” tegas Choi dalam salah satu adegan—sebuah pernyataan yang menggemakan frustrasi publik terhadap sistem yang kerap gagal menegakkan keadilan.
Namun, popularitas serial ini tidak lepas dari kontroversi. Sejumlah pendidik Korea mengkritiknya karena dianggap mengglorifikasi kekerasan dan hukuman fisik. Dalam narasinya, pelajar bermasalah, orang tua abusive, dan guru korup kerap dihajar atau dipermalukan di depan publik. Meski begitu, penonton sepertinya mencari lebih dari sekadar kepuasan main hakim sendiri. Dialog yang menginspirasi dan karakter yang hidup menawarkan pelarian, sekaligus memantik refleksi tentang kegagalan sistem pendidikan riil.
Fenomena ini juga terasa di Indonesia. Sistem pendidikan nasional kita menghadapi masalah serupa: kekerasan di sekolah, beban kerja guru yang tinggi, dan tekanan kompetitif yang mencekik. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ratusan kasus perundungan setiap tahun, sementara guru seringkali kehilangan otoritas di hadapan murid dan orang tua. Drama seperti Teach You a Lesson menjadi cermin yang tidak nyaman, namun jujur, tentang apa yang terjadi ketika institusi pendidikan gagal menjalankan fungsinya.
Dalam episode pamungkas, Na Hwa-jin berkata kepada murid yang bertanggung jawab atas kematian istrinya, “Kesempatan bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan diraih saat kau benar-benar menginginkannya.” Kalimat ini menangkap keyakinan yang meluas di Asia Timur dan sekitarnya: pendidikan adalah jalan terbaik untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Namun, ketika guru, orang tua, dan pembuat kebijakan tidak memiliki alat yang memadai untuk mengatasi masalah di depan mereka—dan sejumlah orang akhirnya kalah—apa sebenarnya tujuan pendidikan?



