Mimpi Piala Dunia India: Antara Talangan Talenta dan Kubangan Birokrasi
Baca dalam 60 detik
- India, negara berpenduduk 1,4 miliar, belum pernah lolos ke Piala Dunia FIFA, sementara negara kecil seperti Curaçao justru berhasil.
- Kegagalan ini dipicu oleh absennya program pembinaan usia dini yang serius dan dominasi kriket yang mengalihkan minat generasi muda.
- Federasi Sepak Bola India (AIFF) tengah mendorong perubahan aturan untuk memungkinkan diaspora bermain, namun hasil di lapangan masih jauh dari harapan.

Di tengah gemuruh Piala Dunia yang menyedot perhatian global, India kembali menjadi penonton—sebuah ironi bagi negara dengan populasi 1,4 miliar jiwa yang tak pernah sekalipun menjejakkan kaki di putaran final turnamen sepak bola terbesar dunia. Timnas pria India, yang dijuluki Macan Biru, tak pernah melaju melebihi babak awal kualifikasi zona Asia, sementara antusiasme warga di negara bagian seperti Bengal Barat, Kerala, dan Goa justru meluap-luap setiap kali pesta bola digelar.
Kontras ini kian terasa ketika FIFA harus mengirim tim negosiasi hak siar khusus ke India untuk mengamankan kesepakatan menit terakhir—sebuah pengakuan diam-diam atas besarnya potensi pasar yang belum terkelola. Namun, di balik hiruk-pikuk tayangan dan liputan media, pertanyaan mendasar terus mengemuka: apa yang sebenarnya menghalangi India untuk bersaing di level tertinggi?
Bekas kapten timnas Baichung Bhutia, salah satu figur paling disegani di sepak bola India, menegaskan bahwa peluang itu ada—terutama setelah kuota Asia bertambah menjadi delapan tim dalam format 48 peserta. "Tidak ada yang mustahil. Tapi butuh kerja keras luar biasa," ujarnya. Menurut Bhutia, masalah utama bukanlah bakat, melainkan ketiadaan ekosistem pembinaan yang berkelanjutan. "Kami tidak punya program akar rumput yang serius dengan visi jangka panjang."
Shyam Thapa, legenda hidup yang membawa India meraih perunggu Asian Games 1970, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Saya sendiri menjalankan akademi selama bertahun-tahun. Semakin banyak anak bermain, semakin besar peluang menemukan talenta. Tapi apa yang sudah dilakukan AIFF?" sindirnya. Thapa menyoroti kecenderungan orang tua kelas menengah yang lebih memilih mengirim anak ke akademi kriket demi mengejar kontrak gemerlap Liga Premier India (IPL).
Ketika Kalyan Chaubey, mantan pemain yang kini menjabat presiden AIFF, dilantik pada 2022, ia berjanji tidak akan menjual mimpi kosong. "Saya tidak akan bilang India akan main di Piala Dunia dalam delapan tahun. Saya hanya akan membawa sepak bola India maju dari kondisi sekarang," ujarnya. Namun, hampir empat tahun berselang, banyak pihak menilai AIFF justru menjadi bulan-bulanan kritik. Visi 2047—sebuah peta jalan ambisius yang menjanjikan 35 juta anak terlibat dalam sepak bola—kini dianggap sebagai janji kampanye yang terlupakan.
Kegagalan paling anyar adalah tidak lolosnya India ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 dan absennya tim dari Piala Asia tahun depan. Mantan kapten Sunil Chhetri, yang sempat pensiun lalu kembali pada 2025, menekankan perlunya target realistis. "Langkah pertama adalah lolos ke semua Piala Asia agar bisa bertemu lawan kuat. Setelah masuk 15-20 besar Asia, barulah kita bicara Piala Dunia," katanya.
Di tengah suramnya prospek, AIFF tengah mendorong perubahan kebijakan yang memungkinkan pemegang Kartu Warga Negara Asing (OCI) bermain untuk India tanpa harus melepas kewarganegaraan asing. Saat ini, pemain keturunan India yang memegang paspor asing harus melepasnya. Ryan Williams, kelahiran Australia, telah membuktikan nilainya setelah melalui proses tersebut. Jika perubahan ini terealisasi, India bisa memanfaatkan diaspora yang saat ini membela negara lain—empat di antaranya tampil di Piala Dunia kali ini: Tahsin Mohammed (Qatar), Nishan Velupillay (Australia), Sarpreet Singh (Selandia Baru), dan Samuel Moutoussamy (Kongo).
Namun, semua itu masih sebatas wacana. Sampai saat itu tiba, penggemar India hanya bisa menonton dari jauh, mengagumi Messi, Ronaldo, dan Neymar, sementara bertanya-tanya: jika Curaçao—negara terkecil yang pernah lolos ke Piala Dunia—bisa, mengapa India tidak?



