Gravina Bantah Sepak Bola Italia di Titik Nadir: Kegagalan Piala Dunia Bukan Ukuran Mutlak
Baca dalam 60 detik
- Mantan presiden FIGC Gabriele Gravina menolak anggapan sepak bola Italia sedang terpuruk, meski tiga kali gagal lolos Piala Dunia.
- Ia menyoroti pencapaian timnas Italia seperti gelar Euro 2021 dan sukses tim junior sebagai bukti kebangkitan.
- Gravina mendesak reformasi struktural dan mengkritik sistem voting yang menghambat perubahan di FIGC.

Gabriele Gravina, mantan presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), angkat bicara menepis narasi bahwa sepak bola Italia tengah berada di jurang kehancuran. Menurutnya, menilai kualitas sepak bola Italia hanya dari kegagalan lolos ke Piala Dunia adalah langkah yang reduktif dan tidak akurat.
Berbicara dalam acara peluncuran buku Ivan Zazzaroni di Roma, Gravina mengakui rasa sakit akibat absennya Italia dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut. Namun, ia menolak menerima vonis paling keras yang dialamatkan pada sepak bola Italia. “Saya tidak setuju bahwa sepak bola Italia telah mencapai titik terendahnya,” ujarnya. “Mengevaluasi sepak bola kita berdasarkan satu hasil adalah kesalahan. Kita harus berhenti munafik soal ini.”
Gravina menekankan pentingnya melihat konteks yang lebih luas, yang sering terabaikan dalam euforia negatif pasca-kegagalan Piala Dunia. Sejak 2018, di bawah arahan Roberto Mancini, Italia mencatat 37 hasil positif beruntun dan memenangkan Piala Eropa 2021. “Ini adalah hasil yang luar biasa,” tegas Gravina. Ia juga menyoroti perkembangan tim junior Italia yang sebelumnya jarang mencapai final, namun kini berhasil memenangkan Kejuaraan Eropa U-17 dan U-19.
Gravina juga blak-blakan mengenai momen-momen krusial yang membuat Italia gagal lolos. Ia menyebut kegagalan Moise Kean dan Pio Esposito dalam mencetak gol yang seharusnya bisa menjadi penentu. “Jika mereka mencetak gol? Kita akan membuka kembali semua oratorio dan secara ajaib menyelesaikan setiap masalah di sepak bola Italia,” sindirnya, merujuk pada kecenderungan reaksi berlebihan yang hanya didasarkan pada hasil instan.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat sepak bola nasional juga kerap dihakimi berdasarkan hasil pertandingan besar, tanpa melihat proses pembinaan jangka panjang. Keberhasilan Italia di level junior menjadi pengingat bahwa investasi pada kelompok umur adalah kunci keberlanjutan prestasi.
Ke depan, Gravina mendesak reformasi struktural dan investasi yang lebih besar. Ia mendoakan Giovanni Malagò, presiden FIGC yang baru, dengan satu permintaan khusus: mengubah sistem voting yang menghambat reformasi. “Tidak mungkin sebuah reformasi terhambat hanya karena 3% tidak setuju. Itu anti-demokratis dan bertentangan dengan akal sehat. Saya tidak berhasil mengubahnya, semoga dia berhasil,” pungkas Gravina. Pertanyaannya, mampukah Malagò mendobrak kebuntuan yang sudah mengakar?



