Fenomena Tim Payne: Bek Selandia Baru yang Viral di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Bek Tim Payne meledak di media sosial setelah disebut sebagai pemain paling tidak dikenal di Piala Dunia oleh influencer Argentina, pengikut Instagramnya melonjak dari 5.000 ke lebih dari 5 juta.
- Meski viral, Payne tetap fokus membela Selandia Baru di turnamen, membantu timnya meraih hasil imbang 2-2 melawan Iran di laga perdana Grup B.
- Fenomena ini menyoroti bagaimana media sosial bisa mengubah persepsi publik terhadap atlet, namun juga menimbulkan pertanyaan soal dampak komersial jangka panjang bagi pemain.
Bek veteran Selandia Baru, Tim Payne, mendadak menjadi sensasi global di Piala Dunia 2026 setelah seorang influencer asal Argentina menjulukinya sebagai pemain paling tidak dikenal di turnamen. Dalam hitungan pekan, jumlah pengikut Instagram Payne meroket dari hanya 5.000 menjadi lebih dari lima juta, menjadikannya salah satu cerita paling menarik di balik lapangan hijau.
Fenomena ini bermula dari unggahan Valen Scarsini, yang dikenal dengan nama akun El Scarso, yang menyoroti minimnya pengikut media sosial Payne. Meskipun label itu tidak sepenuhnya akurat—Payne telah membela Selandia Baru sejak 2012 dan mencatat lebih dari 50 penampilan internasional—sorotan tersebut justru melambungkan namanya. Dalam wawancara dengan FIFA, Payne mengaku masih mencerna perubahan drastis ini. “Saya masih memprosesnya dan mulai terbiasa. Yang terpenting, semua ini datang dari tempat yang positif dan itu keren. Saya berterima kasih pada Valen,” ujarnya.
Namun, di balik popularitas mendadak, pemain berusia 32 tahun itu tetap rendah hati. “Saya masih orang yang sama. Saya masih seorang Kiwi pekerja keras yang berusaha mewakili negara di panggung dunia, dan itu tidak akan pernah berubah,” tegasnya. Payne juga mengaku belum yakin apakah lonjakan pengikut ini akan berdampak komersial. “Fokus utama saya adalah turnamen ini dan berusaha tampil baik untuk Selandia Baru,” tambahnya.
Di lapangan, Payne membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar sensasi media sosial. Ia tampil solid saat Selandia Baru menahan imbang Iran 2-2 di Los Angeles. “Atmosfer stadion luar biasa. Kami sedikit kecewa karena unggul dua kali tapi harus puas imbang. Tapi kami akan ambil pelajaran dan melangkah,” katanya. Hasil itu menjadi modal berharga bagi All Whites yang berjuang di Grup B bersama tuan rumah Amerika Serikat dan Belanda.
Fenomena Payne membuka diskusi tentang pengaruh media sosial dalam sepak bola modern. Di Indonesia, fenomena serupa bisa terjadi pada pemain lokal yang tiba-tiba viral, baik karena aksi di lapangan maupun konten kreator. Namun, seperti diakui Payne, popularitas digital belum tentu berbanding lurus dengan kesuksesan di lapangan atau nilai komersial. Pertanyaan besarnya: apakah tren ini akan bertahan lama, atau hanya sekadar euforia sesaat yang meredup begitu turnamen usai?



