McLaren Gugat Keputusan FIA yang Kembalikan Posisi Gasly di GP Monako
Baca dalam 60 detik
- McLaren mengajukan banding ke Pengadilan Banding FIA atas pembatalan penalti pit-lane yang diterima Pierre Gasly di GP Monako.
- Keputusan FIA yang mengakui kesalahan pengukuran panjang pit-lane memicu kekhawatiran tentang konsistensi regulasi dan keadilan kompetisi.
- Kasus ini berpotensi mengubah hasil akhir balapan dan mempengaruhi perebutan gelar juara dunia F1.

McLaren resmi mengajukan banding ke Pengadilan Banding FIA terkait keputusan kontroversial yang mengembalikan posisi ketiga pembalap Alpine, Pierre Gasly, pada Grand Prix Monako. Langkah ini diambil setelah FIA membatalkan penalti yang dijatuhkan kepada Gasly karena melaju melebihi batas kecepatan di pit-lane, sebuah keputusan yang dinilai McLaren merusak integritas kompetisi.
Dalam pernyataan resmi, McLaren menegaskan bahwa kasus ini menyentuh persoalan fundamental tentang keadilan olahraga dan konsistensi regulasi. "Sepanjang akhir pekan GP Monako, semua tim beroperasi sesuai aturan dan praktik standar yang berlaku. Peserta menyesuaikan prosedur mereka dan menerima penalti yang dijatuhkan. Pembatalan penalti secara sepihak menciptakan situasi di mana beberapa peserta dirugikan karena telah mematuhi aturan," demikian bunyi pernyataan tim asal Inggris tersebut.
Keputusan FIA untuk membatalkan penalti Gasly berawal dari pengakuan bahwa panjang pit-lane yang digunakan sebagai acuan batas kecepatan telah salah diukur. Dalam sidang banding Alpine, terungkap bahwa pit-lane diukur 77 meter lebih panjang dari jarak yang sebenarnya bisa ditempuh pembalap. Akibatnya, batas kecepatan 60 km/jam yang dihitung berdasarkan waktu tempuh menjadi tidak akurat, sehingga beberapa pembalap dianggap melanggar padahal kecepatan mereka sebenarnya sesuai.
Kekacauan ini tidak hanya berdampak pada Gasly dan Piastri. Pembalap Mercedes, George Russell, menjadi salah satu korban paling parah. Ia menerima penalti lima detik karena kelebihan kecepatan 0,1 km/jam, namun karena kesalahan komunikasi tim, penalti tersebut tidak dijalankan sehingga berubah menjadi drive-through yang membuatnya melorot dari posisi ketiga ke ke-12. Russell kehilangan 15 poin yang sangat berharga dalam persaingan gelar juara melawan rekan setimnya Kimi Antonelli dan pembalap Ferrari Lewis Hamilton.
Yang lebih memprihatinkan, laporan stewards mengungkapkan bahwa masalah ini sebenarnya sudah diangkat oleh tim-tim kepada FIA selama akhir pekan balapan, namun diabaikan. Bahkan setelah penalti ketiga dijatuhkan, stewards bertanya kepada ofisial apakah ada keanehan, dan dijawab tidak ada. Komunikasi tersebut tidak diteruskan ke stewards maupun petugas waktu. Hal ini menunjukkan kegagalan prosedural yang serius dalam tubuh FIA.
Pembalap McLaren, Oscar Piastri, mengaku "terpukul" dengan keputusan tersebut. "Bagaimana mungkin Anda membatalkan keputusan yang pada akhirnya salah, tetapi ketika orang lain telah dihukum untuk hal yang sama dan menjalani penalti di balapan, lalu Anda mengubah satu penalti, mengetahui bahwa mungkin lima atau enam balapan lain terpengaruh, itu sungguh mengejutkan," ujarnya di Grand Prix Barcelona.
Mercedes juga telah meminta hak untuk meninjau ulang hasil balapan Monako. Sementara itu, Red Bull belum menyerahkan trofi posisi ketiga kepada Gasly karena masih mempertimbangkan banding. Kasus ini kini berada di Pengadilan Banding FIA, badan hukum tertinggi dalam olahraga ini, yang keputusannya akan menjadi preseden penting bagi masa depan regulasi F1.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa rumitnya regulasi teknis dalam olahraga jet darat. Ketika kesalahan pengukuran sekecil 77 meter bisa mengubah hasil balapan dan mempengaruhi perburuan gelar, pertanyaan tentang transparansi dan akuntabilitas FIA menjadi semakin mendesak. Apakah banding McLaren akan mengembalikan keadilan, atau justru memperpanjang polemik yang merusak kredibilitas F1?



