Selat Hormuz Butuh Waktu Berminggu-minggu untuk Kembali Aman Dilayari
Baca dalam 60 detik
- CEO Mitsui O.S.K. memperkirakan kapal kargo baru akan berani melintasi Selat Hormuz dalam hitungan minggu hingga sebulan setelah gencatan senjata AS-Iran terwujud.
- Selat yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia itu praktis lumpuh sejak perang Iran pecah pada akhir Februari.
- Keputusan kembali berlayar tidak hanya bergantung pada kesepakatan politik, tetapi juga koordinasi dengan pemerintah, asuransi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Keputusan perusahaan pelayaran untuk kembali melintasi Selat Hormuz diperkirakan baru akan terjadi dalam hitungan minggu, bahkan bisa mencapai satu bulan, setelah kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran benar-benar terwujud secara nyata. Hal itu diungkapkan langsung oleh Jotaro Tamura, CEO Mitsui O.S.K., salah satu raksasa pelayaran Jepang, dalam wawancara dengan Financial Times.
Sejak perang di Iran pecah pada akhir Februari lalu, Selat Hormuz—jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak bumi dan gas alam cair (LNG) dunia—nyaris lumpuh total. Tidak hanya energi, komoditas seperti aluminium dan urea juga ikut terhambat. Kekhawatiran akan keselamatan kapal dan awaknya menjadi alasan utama para pemilik kapal menahan diri.
Menurut Tamura, pengalaman beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap stabilitas kawasan tidak bisa dibangun dalam semalam. “Mengingat pengalaman beberapa bulan terakhir, masuk akal untuk berasumsi bahwa dibutuhkan setidaknya beberapa minggu, atau bahkan sebulan,” ujarnya, merujuk pada pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Iran. Meskipun Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan, pandangan Tamura tidak berubah.
Mitsui O.S.K. dalam pernyataan tertulisnya kepada Reuters menegaskan bahwa meskipun ada tanda-tanda pergerakan menuju gencatan senjata, operasi pelayaran tidak akan dilanjutkan sampai keamanan benar-benar terjamin. “Kami mengakui ada tanda-tanda pergerakan menuju gencatan senjata. Namun, operasi tidak akan dilanjutkan sampai keamanan telah dikonfirmasi secara memadai,” tulis perusahaan tersebut.
Perusahaan pelayaran terbesar ketiga di Jepang itu juga menekankan bahwa pemulihan transit memerlukan koordinasi erat dengan pemerintah negara-negara terkait, perusahaan asuransi, dan pemangku kepentingan lainnya. Artinya, faktor non-teknis seperti jaminan keamanan dari negara-negara regional dan kesiapan asuransi menjadi prasyarat yang tidak kalah penting.
Bagi Indonesia, situasi di Selat Hormuz memiliki dampak langsung terhadap harga energi dan pasokan komoditas impor. Sebagai negara pengimpor minyak mentah dan LNG, gangguan di jalur ini berpotensi meningkatkan biaya logistik dan harga bahan bakar di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan langkah antisipatif, termasuk diversifikasi sumber pasokan energi, untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur strategis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kesepakatan damai AS-Iran cukup kuat untuk memulihkan kepercayaan para pelaku industri pelayaran, atau justru akan muncul ketegangan baru yang kembali mengancam stabilitas kawasan. Para pengamat menilai bahwa tanpa jaminan keamanan yang konkret dan berkelanjutan, Selat Hormuz akan tetap menjadi titik rawan dalam rantai pasok energi global.



