FIFA Dinilai Kehilangan Kendali Tiket dan Keamanan Suporter di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Ketua kelompok suporter Eropa mengecam FIFA karena tidak menerapkan segregasi penonton di Piala Dunia, meningkatkan risiko konflik antar pendukung.
- Praktik penjualan tiket sekunder yang tidak terkontrol membuat FIFA tidak mengetahui siapa pemilik tiket, sehingga sulit memisahkan suporter tim lawan.
- Aturan larangan bendera yang tidak konsisten antar stadion menimbulkan kebingungan, dengan dugaan staf lokal menerapkan standar NFL, bukan regulasi FIFA.

FIFA dinilai kehilangan kendali atas sistem tiket dan keamanan suporter di Piala Dunia setelah sejumlah pertandingan fase grup berlangsung tanpa pemisahan ketat antara pendukung kedua tim, sebuah praktik yang lazim di ajang sepak bola internasional.
Ronan Evain, Direktur Eksekutif Football Supporters Europe, menyebut ketiadaan segregasi sebagai risiko serius yang menunjukkan FIFA tidak lagi menguasai distribusi tiket. Dalam wawancara dengan BBC Sport, ia mengungkapkan bahwa dorongan FIFA untuk menjual dan memperjualbelikan tiket secara bebas justru membuat organisasi itu kehilangan data kepemilikan tiket. Akibatnya, suporter dari tim lawan berpotensi duduk bercampur di tribun yang sama, situasi yang tidak lazim untuk turnamen sebesar Piala Dunia.
Fenomena itu terlihat jelas di Dallas, ketika pendukung Jepang dan Belanda duduk berdampingan saat kedua tim bertanding. Evain menambahkan bahwa meskipun ada kemungkinan solusi seperti pertukaran tiket antar suporter, langkah tersebut sulit dilakukan karena FIFA tidak memiliki informasi akurat tentang pemilik tiket. Ia juga menyoroti banyaknya tiket yang beredar di platform penjualan ulang tanpa pengawasan FIFA.
Selain masalah tiket, Evain juga menyoroti inkonsistensi aturan terkait bendera dan atribut suporter. Di Stadion Dallas, sejumlah penggemar dilarang membawa bendera masuk, padahal aturan FIFA memperbolehkan bendera kecil berbahan tahan api. Evain menilai kebijakan itu lebih mirip aturan NFL ketimbang kode etik FIFA. Ia menambahkan bahwa tidak ada pedoman seragam di semua venue, sehingga suporter bingung tentang apa yang diizinkan. FIFA sendiri telah memenangkan gugatan di Los Angeles untuk melarang bendera pra-revolusi Iran, tetapi Evain menegaskan bahwa bendera non-politik pun kerap disita.
Bagi Indonesia, situasi ini relevan mengingat antusiasme suporter sepak bola Tanah Air yang kerap membawa atribut kedaerahan. Jika Piala Dunia mendatang digelar di kawasan yang lebih dekat, seperti Asia, konsistensi aturan FIFA akan menjadi perhatian penting bagi penggemar Indonesia yang berencana hadir. Ketidakjelasan regulasi dapat menyulitkan suporter yang ingin mengekspresikan dukungan secara damai.
Ke depan, FIFA dituntut untuk segera memperbaiki sistem tiket dan menetapkan aturan yang seragam di semua stadion. Tanpa langkah konkret, risiko keamanan dan ketidaknyamanan suporter akan terus membayangi turnamen. Pertanyaannya, mampukah FIFA belajar dari kritik ini sebelum Piala Dunia berikutnya?



