Harga Tiket Piala Dunia 2026 Melambung, Suporter Pilih Nonton Laga Non-Favorit
Baca dalam 60 detik
- Penerapan dynamic pricing membuat harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak drastis, dengan tiket Kategori 1 kini di atas US$1.000.
- Banyak suporter terpaksa membeli tiket pertandingan yang tidak melibatkan tim kesayangan mereka demi bisa merasakan atmosfer turnamen.
- FIFA membela kebijakan harga, namun kelompok suporter menilai kenaikan lima kali lipat dibanding Qatar 2022 telah meminggirkan penggemar biasa.
Harga tiket Piala Dunia 2026 yang meroket memaksa sejumlah suporter untuk mengalihkan pilihan ke laga-laga yang tidak melibatkan tim favorit mereka, demi bisa tetap menyaksikan pesta sepak bola terbesar di dunia secara langsung.
Juan Velosa, penggemar asal Kolombia yang tinggal di Baltimore, Maryland, mengaku harus merelakan keinginan menonton negaranya bertanding karena biaya perjalanan ke Meksiko atau Miami terlalu mahal. Sebagai gantinya, ia membeli tiket pertandingan Pantai Gading versus Curacao seharga US$270. "Saya sadar tidak akan bisa hadir di laga Kolombia sejak awal, begitu harga dan lokasi diumumkan," ujarnya kepada CNA.
Fenomena serupa dialami Dale Mulhall, pendukung Inggris yang tinggal hanya 40 km dari Stadion Gillette di Foxborough, Massachusetts. Tiket Inggris versus Ghana langsung habis terjual, dan hanya sebagian kecil dialokasikan untuk kelompok suporter resmi. Mulhall akhirnya memilih laga Uruguay versus Arab Saudi, membeli dua tiket seharga US$220 masing-masing. "Saya penggemar berat Leeds United, dan karena Marcelo Bielsa kini melatih Uruguay, saya ingin melihatnya," katanya.
Penerapan dynamic pricing untuk pertama kalinya dalam Piala Dunia menjadi biang keladi fluktuasi harga. Menurut Richard Sheehan, profesor ekonomi dari University of Notre Dame, harga akan turun jika permintaan rendah, tetapi Piala Dunia bukan produk yang tidak diminati. "Saya tidak berharap harga turun drastis untuk pertandingan paling diminati, kecuali ada kejadian luar biasa," ujarnya.
Presiden FIFA Gianni Infantino membela kebijakan tersebut di tengah kritik. Namun, FSE memperingatkan bahwa harga yang "selangit" akan mengusir penggemar biasa. Di sisi lain, Becky Arntsen, pendukung Inggris lainnya, memilih menonton tiga laga di Meksiko dengan total US$500—termasuk Tunisia versus Jepang dan Kolombia versus Kongo DR—daripada harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyaksikan timnya. "Kami akan menonton Inggris di zona penggemar atau bar lokal di Meksiko," katanya.
Bagi penggemar di Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa akses ke Piala Dunia semakin terbatas secara ekonomi. Dengan tiket termurah di kisaran US$200–300, belum termasuk akomodasi dan transportasi, biaya menonton langsung bisa mencapai puluhan juta rupiah. Meski Timnas Indonesia belum lolos, animo masyarakat tetap tinggi—terbukti dari maraknya nonton bareng dan perjalanan suporter ke luar negeri saat turnamen sebelumnya.
Para ahli memperkirakan harga tidak akan anjlok signifikan, meski ada kemungkinan penurunan kecil di menit-menit akhir. Mulhall beruntung mendapatkan tiket Kategori 1 untuk Inggris versus Ghana dengan diskon US$490. "Kapan lagi Inggris main di dekat rumah saya?" katanya. Sementara Velosa tetap optimis, "Menonton Pantai Gading versus Curacao memberi makna berbeda—saya bisa memperhatikan hal di luar sepak bola, seperti budaya penggemar dari negara lain."
Pertanyaan besarnya, apakah FIFA akan mengevaluasi kebijakan harga ini untuk edisi mendatang, atau justru semakin mengukuhkan Piala Dunia sebagai ajang eksklusif kalangan berada?



