Harga Minyak Terus Tertekan: Optimisme Gencatan Senjata AS-Iron Meredup
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI kembali turun setelah penandatanganan nota kesepahaman AS-Iran yang membuka peluang lalu lintas Selat Hormuz.
- Kesepakatan damai itu masih bersifat awal dan belum final, sehingga potensi gangguan pasokan tetap membayangi pasar energi global.
- Bagi Indonesia, penurunan harga minyak berpotensi meringankan beban subsidi energi, namun ketidakpastian geopolitik masih menjadi risiko.

Harga minyak mentah dunia kembali merosot pada Selasa (10/6) setelah optimisme pasar terhadap kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz mulai meredup. Brent tercatat di level 82,37 dolar AS per barel, turun 0,96 persen dari posisi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,83 persen menjadi 80,08 dolar AS per barel.
Penurunan ini merupakan lanjutan dari aksi jual besar-besaran pada akhir pekan lalu, ketika harga anjlok lebih dari 5 persen setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Tehran. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global, menjadi isu sentral dalam perundingan tersebut. Namun, euforia pasar mulai terkikis setelah sejumlah pejabat AS mengungkapkan bahwa dokumen yang ditandatangani masih bersifat sementara dan belum menjamin gencatan senjata permanen.
Presiden AS Donald Trump, dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di sela-sela KTT G7 di Evian, menyatakan bahwa teks MoU akan dirilis "setelah Jumat" dan menyebutnya sebagai "dokumen yang sangat kuat". Namun, Wakil Presiden AS JD Vance memberikan gambaran berbeda kepada CNN. Ia mengungkapkan bahwa MoU tersebut hanya sepanjang "sekitar satu setengah halaman" dan merupakan kerangka kerja awal untuk negosiasi teknis selanjutnya.
Ketidakjelasan detail kesepakatan membuat pelaku pasar waspada. Kekhawatiran bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz mungkin memakan waktu lebih lama dari perkiraan turut menahan laju penurunan harga lebih lanjut. Pakistan, yang memediasi perundingan antara Washington dan Tehran, sebelumnya mengumumkan bahwa penandatanganan perjanjian damai akan digelar di Swiss pada Jumat pekan ini. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai isi dan jadwal finalisasi.
Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, penurunan harga berpotensi mengurangi beban subsidi energi dalam APBN. Namun, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor risiko yang dapat memicu volatilitas. Pemerintah perlu mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran, mengingat setiap gangguan pasokan dari Selat Hormuz akan berdampak pada harga BBM dalam negeri dan stabilitas ekonomi makro.
Ke depan, pasar akan fokus pada rilis teks MoU yang dijanjikan Trump serta kelanjutan negosiasi teknis. Jika kesepakatan damai benar-benar terwujud dan Selat Hormuz kembali beroperasi normal, harga minyak berpotensi turun lebih dalam. Namun, jika negosiasi menemui jalan buntu, risiko lonjakan harga kembali mengemuka. Pertanyaan besarnya: sejauh mana komitmen kedua belah pihak untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan?



