Jordan Sambut Debut Piala Dunia dengan Kebanggaan, Bukan Tekanan
Baca dalam 60 detik
- Kapten Yordania, Ehsan Haddad, menegaskan skuadnya lebih merasa bangga daripada tertekan menjelang laga perdana Piala Dunia melawan Austria.
- Tim berjuluk Al-Nashama ini mencetak 32 gol di kualifikasi dan berambisi menjadi tim debutan pertama yang lolos ke fase gugur sejak Slovakia 2010.
- Dengan mayoritas pemain dari liga domestik dan Timur Tengah, Yordania mengandalkan semangat juang dan disiplin taktik untuk bersaing di Grup J.
Kapten tim nasional Yordania, Ehsan Haddad, menegaskan bahwa kebanggaan menjadi motivasi utama skuadnya menjelang debut di Piala Dunia 2026, bukan tekanan. Menghadapi Austria di laga pembuka Grup J, Haddad menyebut partisipasi pertama ini sebagai babak baru dalam sejarah sepak bola negara mereka.
“Kami ikut serta untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ini adalah sumber kebanggaan besar bagi kami. Kebanggaan ini lebih besar daripada tekanan. Bermimpi berada di sini sudah menjadi kenyataan,” ujar Haddad dalam konferensi pers di Santa Clara, California, Senin (15/6). Ia menambahkan bahwa tekanan yang mereka rasakan selama kualifikasi justru menjadi pendorong untuk mencapai panggung dunia.
Yordania, yang dikenal dengan julukan Al-Nashama atau “para bangsawan”, datang ke Amerika Serikat dengan modal 32 gol selama babak kualifikasi. Mereka berambisi menjadi tim debutan pertama yang menembus fase gugur sejak Slovakia melakukannya pada edisi 2010. Namun, langkah awal mereka tidak akan mudah. Austria, yang kembali ke Piala Dunia setelah absen 28 tahun, dipastikan akan tampil agresif untuk membuktikan diri.
Pelatih Yordania, Jamal Sellami, mengakui keunggulan Austria di lini tengah, serangan, dan duel udara. Meski demikian, ia telah menyiapkan strategi khusus untuk laga di stadion kandang San Francisco 49ers tersebut. “Kami akan bertarung, bersabar selama 90 menit, dan berpegang pada rencana permainan,” tegas Haddad, menggambarkan pendekatan timnya.
Menariknya, performa apik negara-negara Asia lain di Piala Dunia ini—seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Qatar—menjadi suntikan motivasi tambahan bagi Yordania. “Hasil yang mereka raih sangat mendorong. Ini semua adalah motivasi positif bagi para pemain untuk tampil maksimal,” kata Sellami.
Bagi Indonesia, perjalanan Yordania menjadi cermin bahwa tim dari kawasan yang secara infrastruktur sepak bola tidak sekuat Eropa tetap bisa bersaing di level tertinggi. Dengan mayoritas pemain berasal dari liga domestik dan Timur Tengah, serta hanya satu pemain yang merumput di Eropa, Yordania membuktikan bahwa kebersamaan dan disiplin taktik dapat menjadi penyeimbang. Pelajaran ini relevan bagi pengembangan sepak bola Indonesia yang tengah berupaya meningkatkan kualitas liga dan pemain lokal.
Setelah melawan Austria, Yordania akan menghadapi Aljazair dan kemudian juara bertahan Argentina. Pertanyaan besarnya: mampukah Al-Nashama menulis sejarah baru dengan melaju ke babak 16 besar, atau akankah pengalaman panggung dunia menjadi pelajaran berharga untuk masa depan?



