Kéllé Bryan Sebut Loose Women Kini Paling Beragam: 'Ada untuk Semua Kalangan'
Baca dalam 60 detik
- Kéllé Bryan menilai komposisi panel Loose Women saat ini adalah yang terkuat dan paling inklusif sepanjang sejarah acara.
- Perombakan besar-besaran di balik layar dan pergantian personel justru membuka ruang lebih besar bagi wajah-wajah baru seperti Judi Love, Brenda Edwards, GK Barry, hingga Emma Grede.
- Bryan menyoroti keberhasilan kampanye sosial acara, terutama dukungan bagi korban kekerasan domestik, sebagai capaian paling berdampak tahun ini.

Panelis Loose Women, Kéllé Bryan, menegaskan bahwa rangkaian perubahan besar yang mengguncang acara ITV tersebut justru menghasilkan komposisi panel paling kuat dan paling beragam yang pernah dimiliki program itu. Pernyataan ini muncul setelah setahun penuh gejolak di balik layar, mulai dari perampingan staf produksi hingga hengkangnya sejumlah nama senior dari kursi panelis.
Loose Women memang tengah memasuki babak baru. Denise Welch memutuskan mundur pada Agustus 2026 setelah 25 tahun bolak-balik mengisi kursi panelis demi menekuni karier aktingnya secara penuh. Linda Robson, bintang Birds of a Feather, tak lagi tampil sejak 2025. Sementara Nadia Sawalha tersingkir dan disisihkan dari acara menyusul pernyataannya yang mendukung Palestina. Pergantian ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan restrukturisasi yang mengubah wajah program siang hari itu secara fundamental.
Dampaknya, panggung justru semakin terbuka bagi sejumlah nama yang sebelumnya jarang mendapat porsi sorotan. Komedian Judi Love, bintang panggung West End Brenda Edwards, influencer GK Barry, dan pembaca berita Charlene White kini mengisi lebih banyak segmen. Kejutan datang dari kehadiran perdana Emma Grede, pengusaha yang dikenal lewat ajang Dragons' Den. Menurut Bryan, komposisi anyar ini membuat acara mampu menjangkau penonton dari berbagai lapisan usia dan latar belakang.
Bagi Bryan, perubahan ini bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi panelis. Ia menilai format acara kini lebih menyerupai percakapan mendalam ala podcast yang disiarkan di televisi. "Ini cara kerja yang berbeda, tapi yang menyenangkan adalah kami semua berada di bawah satu atap. Kami lebih sering bertemu, dan suasananya lebih cair," ujarnya kepada BANG Showbiz. Ia mengakui masih beradaptasi dengan ritme baru tersebut, namun melihatnya sebagai sesuatu yang segar.
"Ini susunan yang hebat, ada sesuatu untuk semua orang, semua rentang usia. Loose Women selalu mampu melakukannya dengan baik, yaitu mewakili semua kalangan sebisa mungkin."
— Kéllé Bryan, panelis Loose Women
Yang tak kalah penting, Bryan menyoroti peran kampanye sosial acara tersebut. Ia merasa bangga karena Loose Women berhasil mengangkat isu kekerasan domestik ke ruang publik dan memberikan dukungan nyata bagi para korban. "Ini tahun yang luar biasa untuk kampanye kami. Penanganan kekerasan dalam rumah tangga berjalan sangat baik. Dampaknya terasa kuat," tuturnya. Baginya, pencapaian itu menjadi bukti bahwa acara hiburan bisa sekaligus menjadi platform advokasi.
Perjalanan Bryan sendiri di industri hiburan Tanah Air Inggris sudah tak diragukan. Ia pertama kali dikenal sebagai personel grup R'n'B Eternal bersama Louise Redknapp serta kakak-beradik Easther dan Vernie Bennett. Setelah itu, ia meniti karier akting lewat sinetron Hollyoaks sebelum akhirnya bergabung sebagai panelis Loose Women pada 2019. Pengalaman panjang ini membuatnya memahami betul dinamika industri yang terus berubah, termasuk tekanan rating dan tuntutan keberagaman.
Bagi publik Indonesia, kisah Loose Women menawarkan cermin menarik tentang bagaimana program televisi mapan merespons tekanan zaman. Di saat banyak acara televisi nasional masih berkutat dengan format kaku dan panelis yang itu-itu saja, langkah Loose Women merombak komposisi demi keterwakilan yang lebih luas bisa menjadi bahan renungan. Pertanyaannya, apakah stasiun televisi di Indonesia siap mengikuti jejak serupa, atau justru bertahan dengan formula lama yang dianggap aman secara komersial?
Ke depan, tantangan terbesar Loose Women bukan hanya mempertahankan rating, tetapi juga membuktikan bahwa keberagaman panelis benar-benar berdampak pada kualitas diskusi dan kedalaman isu yang diangkat. Jika berhasil, acara ini bisa menjadi cetak biru bagi program bincang-bincang lain di berbagai negara. Namun jika gagal, ia hanya akan menjadi catatan kaki tentang eksperimen yang tak tuntas. Publik pun menanti apakah semangat baru ini akan bertahan lama atau sekadar euforia sesaat.



