Everton Boros Rp800 Miliar: McNeil dan Mykolenko Jadi Simbol Kegagalan Transfer
Baca dalam 60 detik
- Everton menghabiskan sekitar £37 juta untuk Vitaliy Mykolenko, tetapi kontribusinya minim dan performa defensifnya di bawah rata-rata.
- Keputusan menjual Dwight McNeil ke Crystal Palace dinilai terlambat karena nilai jualnya sudah turun drastis.
- Manajemen Everton perlu segera merombak skuad dengan merekrut pemain yang benar-benar meningkatkan kualitas tim.

Everton kembali menjadi sorotan setelah menghamburkan dana besar untuk pemain yang gagal memenuhi ekspektasi. Kali ini, bek kiri Vitaliy Mykolenko menjadi sorotan utama. Sejak didatangkan dari Dynamo Kyiv pada Januari 2022 dengan harga sekitar £18 juta, pemain asal Ukraina itu telah menelan biaya total hingga £37 juta, termasuk gaji. Namun, kontribusinya di lapangan jauh dari kata sepadan.
Mykolenko telah mencatatkan 165 penampilan untuk The Toffees, tetapi hanya mencetak sembilan gol dan assist—rasio satu kontribusi gol setiap 18 pertandingan. Lebih mengkhawatirkan lagi, performa defensifnya di awal musim 2026/27 menunjukkan penurunan. Data Premier League mencatat ia dilewati lawan 1,3 kali per 90 menit, angka yang lebih buruk dari 85% bek lainnya. Ia juga hanya merebut kembali bola 0,5 kali per 90 menit, di bawah 70% full-back di liga.
Kasus Mykolenko bukan yang pertama. Sebelumnya, Dwight McNeil juga menjadi contoh buruk pembelian Everton. Didatangkan dari Burnley pada 2022 dengan harga £30 juta, McNeil hanya mencetak 15 gol dalam 130 penampilan. Puncaknya, ia gagal mencetak satu gol pun di musim 2025/26. Meski demikian, ia masih sering menjadi starter di bawah asuhan David Moyes. Akhirnya, McNeil dijual ke Crystal Palace pada bursa transfer musim panas lalu dalam kesepakatan tukar guling dengan Brennan Johnson. Namun, keputusan itu dianggap terlambat karena nilai jualnya sudah merosot.
"Everton terlalu lama mempertahankan pemain yang sudah tidak lagi berada di level yang dibutuhkan," ujar seorang pengamat sepak bola Inggris.
Kegagalan transfer ini berdampak langsung pada ambisi Everton untuk kembali ke kompetisi Eropa. Klub telah lama absen dari panggung Eropa, dan musim lalu sempat berpeluang finis di paruh atas, tetapi rentetan tujuh pertandingan tanpa kemenangan di akhir musim menggagalkan target tersebut. Kekecewaan suporter memuncak, terutama setelah kepindahan ke Stadion Hill Dickinson yang megah.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah Everton ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya evaluasi transfer secara berkala. Klub-klub Liga Indonesia seperti Persija, Persib, atau Bali United juga kerap terjebak dalam pembelian pemain mahal dengan performa mengecewakan. Manajemen yang lambat mengambil keputusan bisa menguras anggaran dan menghambat prestasi. Everton menjadi cermin bahwa loyalitas berlebihan pada pemain yang sudah menurun justru merugikan klub.
Ke depan, Everton harus segera berbenah. Dengan skuad yang masih membutuhkan amunisi baru, mereka perlu merekrut pemain yang benar-benar bisa membawa perubahan. Jika tidak, bukan tidak mungkin The Toffees akan terus berkutat di papan tengah dan semakin jauh dari Eropa. Akankah manajemen belajar dari kesalahan ini, atau justru mengulangi pola yang sama?



