Sharon Stone Tinggalkan Ambisi Menyutradarai Film: 'Saya Terlalu Lelah'
Baca dalam 60 detik
- Aktris senior Hollywood Sharon Stone mengungkapkan bahwa ia telah melepaskan cita-citanya menjadi sutradara film karena merasa terlalu lelah.
- Stone menyoroti perlakuan tidak adil terhadap perempuan di industri film yang membatasi peluang dan upah, serta mengkritik ekspektasi sosial terhadap perempuan pascamenopause.
- Ia juga berbagi pelajaran berharga dari mendiang Carrie Fisher tentang negosiasi kontrak dan pentingnya kemandirian finansial bagi perempuan di Hollywood.

Aktris kawakan Hollywood, Sharon Stone, secara terbuka menyatakan telah mengubur impiannya untuk menjadi sutradara film. Perempuan berusia 68 tahun itu mengaku tidak lagi memiliki energi untuk menangani berbagai persoalan orang lain yang melekat pada posisi tersebut.
Dalam wawancara dengan Variety, bintang film Basic Instinct ini mengungkapkan bahwa sejak lama ia ingin berada di balik kamera. Namun, ia meyakini bahwa identitasnya sebagai perempuan menjadi penghalang utama untuk mendapatkan pekerjaan dan bayaran yang layak di industri perfilman pada masa mudanya. Kini, Stone merasa sudah terlalu letih untuk menerima peran yang menuntut penyelesaian masalah orang lain.
Stone mengaitkan pengalaman pribadinya dengan realitas yang lebih luas tentang diskriminasi gender di Hollywood. Ia menyebut pernah mengalami kesulitan mendapatkan peran dan pengakuan intelektual karena stereotip terhadap perempuan. Bahkan setelah mencapai puncak karier, ia masih menghadapi kendala dalam negosiasi kontrak dengan studio film.
"Saya ingin menyutradarai. Tapi ada masalah vagina yang merepotkan yang menghalangi saya untuk diizinkan memiliki pekerjaan atau dibayar secara adil atau dianggap memiliki sudut pandang yang cerdas," ujarnya, menggunakan sindiran tajam untuk menggambarkan prasangka gender.
Ia menambahkan bahwa sekarang, dengan kondisi pascamenopause, ia merasa terlalu lelah untuk menghadapi "omong kosong" orang-orang demi mendapatkan posisi sutradara. Stone lebih memilih menjalani hidup bahagia tanpa mendengarkan komentar negatif tentang dirinya.
Dalam kesempatan yang sama, Stone memberikan penghormatan kepada mendiang aktris Carrie Fisher yang telah mengajarinya cara menulis kontrak akting. Menurut Stone, pelajaran itu sangat berharga dan membantunya bertahan di industri yang keras. Ia menekankan bahwa agen sering kali lebih berpihak kepada studio daripada kepada aktor, sehingga penting bagi para aktor, terutama perempuan, untuk memahami isi kontrak mereka.
"Carrie Fisher mengajari saya cara menulis kontrak saya, terima kasih Tuhan, seratus tahun yang lalu karena ibunya [aktris Debbie Reynolds] mengajarinya. Dan kemudian studio masih ingin memberi saya kesulitan. 'Anda tidak bisa memiliki itu dalam kontrak Anda.' Yah, tebak? Carrie bisa, Debbie juga, dan saya juga. Itulah kekuatan perempuan, para ladies. Baca kontrak Anda, karena agen yang bekerja di agensi Anda, mereka bekerja untuk studio, bukan untuk Anda," tuturnya.
Pernyataan Stone ini muncul setelah sebelumnya ia membuka diri tentang kehidupan pribadinya. Dalam podcast Mayim Bialik's Breakdown, ia mengaku telah hidup selibat cukup lama karena prioritasnya telah berubah. Ia mengaku sebagai pasangan yang baik, tetapi sudah lama tidak menjalin hubungan romantis. Stone menyatakan bahwa saat ini ia hanya ingin bersama seseorang yang benar-benar ia pedulikan, bukan sekadar pasangan untuk hubungan seksual.
Ia juga menyebut bahwa ketiga anak angkatnyaโRoan (26), Laird (21), dan Quinn (20)โkini telah dewasa, sehingga ia mencari sosok pendamping, bukan sekadar kekasih. Stone mengaku bosan dengan dinamika hubungan yang tidak memuaskan dan sedang berada dalam fase "tanpa keberuntungan" yang harus ia jalani untuk mendapatkan apa yang benar-benar diinginkannya.
Keputusan Stone untuk mundur dari kursi sutradara mencerminkan tantangan yang masih dihadapi perempuan di industri hiburan global, termasuk di Indonesia. Meskipun beberapa sutradara perempuan Indonesia seperti Kamila Andini dan Mouly Surya telah menembus kancah internasional, kesenjangan gender dalam hal kesempatan dan bayaran tetap menjadi isu. Pernyataan Stone dapat menjadi cermin bagi industri film Tanah Air untuk terus mendorong inklusivitas dan kesetaraan.
Ke depannya, apakah pengakuan Stone akan memicu perubahan sistemik di Hollywood, atau justru menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan di industri kreatif masih panjang? Yang jelas, suara Stone menambah daftar panjang seruan untuk keadilan gender di balik layar.



