Iran vs Iran: Politik Pecah Belah Suporter di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Laga Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026 diwarnai protes suporter diaspora yang menolak tim nasional dianggap mewakili rezim.
- Bendera pra-revolusi Lion and Sun menjadi simbol oposisi, dilarang FIFA namun tetap dikibarkan di dalam stadion.
- Pertandingan ini mengungkap perpecahan mendalam di kalangan warga Iran di luar negeri antara dukungan pada tim dan penolakan terhadap pemerintah.

Bentrokan politik dan sepak bola kembali mencuat saat Iran menghadapi Selandia Baru dalam laga pembuka Piala Dunia 2026 di Los Angeles Stadium. Alih-alih persatuan yang diharapkan, pertandingan justru menjadi panggung protes terbuka dari diaspora Iran yang menolak tim nasional dianggap mewakili rezim Teheran.
Di luar stadion, ratusan pengunjuk rasa berkumpul dengan membawa bendera Lion and Sun—simbol era pra-revolusi yang kini menjadi ikon perlawanan. FIFA melarang bendera tersebut di dalam stadion karena dianggap bermuatan politik, namun larangan itu diabaikan. Banyak suporter tetap mengenakan kaus bergambar singa dan matahari, sementara kelompok lain meneriakkan yel-yel seperti "Tim mullah bukan timku" dan "Ganti rezim di Iran".
Suasana kontras terlihat di dalam stadion. Saat Iran tertinggal 0-1 dan kemudian bangkit menjadi 2-2, sorak-sorai bergemuruh. Namun, di antara ribuan bendera Iran yang berkibar, perbedaan mencolok terlihat: sebagian membawa bendera resmi Republik Islam, sebagian lagi bendera Lion and Sun. Seperti diungkapkan Samaneh, warga Iran-Amerika yang sudah sepuluh tahun tinggal di AS, "Saya di sini untuk mendukung Iran, bukan rezim. Saya rindu negara saya."
Kontradiksi semakin nyata ketika Selandia Baru mencetak gol pertama. Sebagian suporter anti-rezim justru bersorak dan mengibarkan bendera Lion and Sun. Di luar stadion, Nini, seorang pengunjuk rasa, menolak kesepakatan damai antara AS dan Iran: "Rakyat Iran pantas mendapatkan pergantian rezim. Orang-orang dibantai di jalanan Teheran." Farimah, yang mengenakan kaus bergambar singa, menambahkan, "Tim ini tidak mewakili rakyat Iran."
Namun, tidak semua suporter sepakat. Mostafa, warga Iran-Amerika lainnya, percaya sepak bola harus menyatukan. "Sepak bola adalah tentang persahabatan, hubungan budaya, dan mengesampingkan politik," ujarnya. Pourmand, yang datang dari San Diego ke kamp latihan Iran di Tijuana, menegaskan para pemain tidak politis. "Mereka di sini untuk menunjukkan bahwa kami layak berada di sini—pesan persahabatan dan nilai-nilai kemanusiaan."
Elika, yang kehilangan ayahnya pada 2020, merasa terpanggil hadir untuk menghormati sang ayah dan warga Iran yang hanya ingin menikmati pertandingan. "Saya berusaha memisahkan rezim dari tim," katanya. Namun, di luar lapangan, politik terus membayangi. Tim Iran terpaksa memindahkan base camp dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, akibat masalah visa—sebuah pengingat bahwa ketegangan diplomatik masih membara.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat besarnya diaspora Iran di Tanah Air dan potensi polarisasi serupa dalam event olahraga internasional. Piala Dunia kerap menjadi ajang ekspresi politik, dan kasus Iran menunjukkan betapa sulitnya memisahkan sepak bola dari identitas politik, terutama ketika rezim dan rakyat berada dalam posisi berseberangan.
Laga pembuka Iran di Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia menjadi cermin perpecahan yang masih menganga di antara warga Iran—antara mereka yang mendukung tim terlepas dari rezim, dan mereka yang melihat tim sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Pertanyaannya, mampukah sepak bola benar-benar menjadi alat pemersatu di tengah politik yang kental?



