Ripple Targetkan Pendapatan US$1 Miliar pada 2026, XRP Terbang 4%
Baca dalam 60 detik
- XRP melonjak 4% dalam 24 jam ke US$1,18 setelah Ripple mengumumkan target pendapatan berulang US$1 miliar pada 2026, tidak termasuk penjualan token XRP.
- Lonjakan harga didorong oleh reli risk-on pasar kripto menyusul meredanya ketegangan geopolitik AS-Iran, dengan volume perdagangan XRP naik 55% menjadi US$1,42 miliar.
- Aliran dana masuk produk ETF XRP selama lima pekan berturut-turut mengindikasikan minat institusional jangka panjang, meskipun RSI di 70,05 menandakan kondisi jenuh beli.

Harga XRP melesat 4% dalam 24 jam terakhir ke level US$1,18 setelah Ripple Labs secara resmi menetapkan target pendapatan operasional berulang sebesar US$1 miliar pada akhir 2026, sebuah langkah strategis yang menandai transformasi model bisnis perusahaan dari ketergantungan pada penjualan token.
Kenaikan ini tidak terlepas dari gelombang optimisme pasar kripto secara umum yang dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik. Presiden AS Donald Trump baru saja mengumumkan penyelesaian kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran, mendorong investor beralih ke aset berisiko seperti mata uang kripto. Bitcoin dan Ethereum juga ikut terkerek, dan XRPโyang memiliki beta tinggi terhadap pasarโbergerak seirama.
Volume perdagangan XRP melonjak 55% dalam sehari menjadi US$1,42 miliar, mencerminkan antusiasme pasar. Namun, yang lebih menarik adalah pernyataan CEO Ripple Brad Garlinghouse yang menegaskan bahwa target pendapatan US$1 miliar tersebut sama sekali tidak bergantung pada penjualan token XRP atau kepemilikan token perusahaan. Sebaliknya, pertumbuhan akan didorong oleh lini bisnis seperti Ripple Prime (brokerage institusional) dan ekspansi stablecoin RLUSD. Bahkan, valuasi perusahaan diperkirakan mencapai US$50 miliar pada kuartal pertama 2026.
Langkah Ripple ini menunjukkan upaya serius untuk mengurangi tekanan jual XRP di pasar. Selama ini, aksi jual token oleh Ripple kerap menjadi sentimen negatif bagi harga. Dengan mengandalkan pendapatan dari layanan institusional dan stablecoin, perusahaan berharap bisa memutus ketergantungan tersebut. Namun, analis mengingatkan adanya kesenjangan yang semakin lebar: kesuksesan bisnis Ripple tidak otomatis mendorong permintaan terhadap XRP. Harga token masih sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar makro dan spekulasi.
Dari sisi institusional, produk ETF XRP mencatatkan aliran dana masuk bersih sekitar US$10,68 juta pada pekan lalu, menandai minggu kelima berturut-turut dengan arus positif. Ini kontras dengan dana Bitcoin dan Ethereum yang justru mengalami outflow. Menurut pengamat pasar, aliran ETF yang konsisten mengindikasikan adanya basis permintaan jangka panjang yang non-spekulatif, yang bisa menjadi bantalan saat terjadi aksi jual besar-besaran.
Secara teknikal, XRP berhasil merebut kembali area US$1,14โUS$1,15 yang sebelumnya merupakan resistensi, kini berubah menjadi zona support kunci. Namun, indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di angka 70,05, menandakan kondisi jenuh beli. Para trader memperkirakan konsolidasi jangka pendek sangat mungkin terjadi, dengan bias bullish masih bertahan selama harga berada di atas US$1,14. Risiko aksi ambil untung tetap mengintai.
Bagi investor Indonesia, pergerakan XRP ini patut dicermati mengingat popularitas aset kripto di tanah air yang cukup tinggi. Meski regulasi masih ketat, minat terhadap XRP sebagai alat pembayaran lintas batas tetap besar. Namun, dengan target pendapatan Ripple yang tidak lagi bergantung pada XRP, muncul pertanyaan: apakah utilitas token ini akan tetap relevan di masa depan? Ataukah XRP perlahan akan berubah menjadi aset spekulatif murni? Jawabannya mungkin baru terlihat dalam beberapa tahun ke depan, seiring realisasi target ambisius Ripple.



