Jennifer Lopez: Setelah Bercerai, Saya Harus 'Memperbaiki Diri Sendiri'
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi dan aktris Jennifer Lopez mengakui bahwa perceraiannya dengan Ben Affleck mendorongnya untuk introspeksi dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.
- Dalam wawancara podcast, Lopez menekankan pentingnya berhenti menyalahkan orang lain dan fokus pada perubahan diri setelah pernikahan keduanya gagal.
- Kisah Lopez menjadi pengingat bagi banyak orang, termasuk di Indonesia, bahwa pemulihan pasca-perceraian membutuhkan waktu dan kesadaran diri.

Jennifer Lopez, diva pop yang namanya identik dengan gemerlap Hollywood, baru saja membuka lembaran baru dalam hidupnya. Setelah perceraiannya dengan aktor Ben Affleck resmi pada Januari 2025, Lopez mengaku bahwa ia harus menghadapi kenyataan pahit: saatnya untuk benar-benar 'memperbaiki diri sendiri'. Dalam sebuah wawancara eksklusif di podcast SmartLess, Lopez mengungkapkan perjalanan emosionalnya yang penuh liku, dari penyesalan hingga penerimaan diri.
Lopez, yang kini berusia 56 tahun, mengaku bahwa perceraian dengan Affleck pada April 2024 menjadi titik balik. Ia memutuskan untuk membatalkan tur konsernya dan merenung. "Setelah perceraian terakhir saya, saya hanya duduk dan berkata pada diri sendiri, 'Kamu harus benar-benar memperbaiki diri. Ada apa denganmu? Lupakan orang lain. Tidak ada yang bisa disalahkan selain dirimu sendiri,'" ujar Lopez, seperti dikutip dari podcast tersebut. Pengakuan ini menjadi momen langka di mana seorang selebritas sekelas Lopez mengakui kerentanannya.
Lopez, yang telah menikah empat kaliโdengan Ojani Noa, Cris Judd, Marc Anthony, dan Ben Affleckโmenyadari bahwa pola hubungannya selama ini mungkin dipengaruhi oleh keputusan dan sikapnya sendiri. "Ada kalanya hidup saya meledak di depan wajah saya sendiri. Itu karena pilihan yang saya buat, dan juga karena hal-hal dalam diri saya yang perlu diubah, yang tidak saya pahami atau sadari," tambahnya. Ia menekankan bahwa introspeksi ini bukanlah bentuk menyalahkan diri sendiri, melainkan langkah untuk tumbuh.
Dalam refleksinya, Lopez mengakui bahwa dirinya kini berada di tempat yang lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. "Dua tahun terakhir adalah proses penyembuhan dari kekacauan, di mana saya benar-benar mengenal diri saya sendiri. Orang yang saya sekarang sangat berbeda dari dua tahun lalu, sungguh gila. Sekarang saya bisa melihat hidup saya, menghargai apa yang telah saya ciptakan, dan merasa benar-benar bahagia," katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa perceraian, meskipun menyakitkan, bisa menjadi katalis untuk perubahan positif.
Namun, Lopez juga menegaskan bahwa ia tidak akan mencari pasangan melalui media sosial. Dalam acara 'Watch What Happens Live with Andy Cohen', ia menolak kemungkinan berkencan dengan seseorang yang mengiriminya pesan langsung di Instagram. "Jika Anda benar-benar ingin menemukan saya, Anda bisa menemukan saya. Tapi tidak melalui Instagram atau DM. Anda harus berusaha lebih dari itu," ujarnya. Sikap ini menunjukkan bahwa Lopez ingin hubungan yang lebih bermakna dan tidak sekadar virtual.
Kisah Lopez ini relevan bagi banyak orang, termasuk di Indonesia, di mana perceraian seringkali dianggap sebagai kegagalan. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, menilai bahwa sikap Lopez untuk introspeksi dan bertanggung jawab adalah langkah sehat. "Banyak orang setelah bercerai cenderung menyalahkan pasangan atau keadaan. Namun, seperti yang dilakukan Lopez, mengakui peran diri sendiri dalam kegagalan hubungan justru membuka jalan untuk pemulihan yang lebih autentik," ujarnya. Di Indonesia, stigma perceraian masih kuat, namun kisah Lopez bisa menjadi inspirasi bahwa perceraian bukanlah akhir dari segalanya.
Ke depan, Lopez tampaknya akan fokus pada karier dan proyek barunya, termasuk film 'Office Romance' bersama Brett Goldstein. Meskipun ada rumor hubungan asmara dengan Goldstein, Lopez dengan tegas membantahnya. Pertanyaannya, mampukah Lopez mempertahankan kebahagiaan yang ia klaim telah diraihnya? Atau akankah pola lama kembali terulang? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, Lopez telah memilih untuk tidak lagi menjadi korban dari pilihannya sendiri.



