Kunjungan Kenegaraan Kaisar Jepang ke Belanda: Napak Tilas Sejarah Dinasti Oranye
Baca dalam 60 detik
- Kaisar Naruhito mengunjungi Istana Het Loo, museum abad ke-17 yang dulunya kediaman Raja Willem III, dalam rangka lawatan resmi ke Belanda.
- Kunjungan ini memperkuat hubungan bilateral Jepang-Belanda yang telah berlangsung berabad-abad, termasuk melalui sejarah perdagangan dan diplomasi.
- Agenda dilanjutkan ke Amsterdam untuk serangkaian acara kenegaraan, menandai pentingnya hubungan kedua negara monarki konstitusional.

Kaisar Jepang Naruhito memulai lawatan resminya ke Belanda dengan mengunjungi Istana Het Loo di Apeldoorn, Senin (16/6) sore waktu setempat. Bangunan bersejarah yang kini berfungsi sebagai museum itu menjadi saksi bisu perjalanan hubungan kedua negara yang telah terjalin selama berabad-abad.
Kaisar yang selama kunjungannya menginap di puri tetangga, Het Oude Loo Castle, tampak berpose di hadapan media begitu melangkah masuk ke halaman depan istana. Momen tersebut menjadi simbol kehangatan hubungan diplomatik antara dua kerajaan yang sama-sama memiliki sistem monarki konstitusional.
Istana Het Loo yang dibangun pada abad ke-17 oleh Stadholder-King William IIIโcikal bakal Wangsa Oranye-Nassauโkini menjadi museum yang memamerkan koleksi seni dan artefak kerajaan. Dalam kunjungannya, Kaisar Naruhito menyempatkan diri melihat ruangan yang pernah digunakan William III, mengamati lukisan karya pelukis istana, serta meneliti koleksi keramik yang bernilai sejarah tinggi. Tak hanya itu, ia juga menikmati pemandangan taman istana dari atap gedung.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Bagi Indonesia, hubungan Jepang-Belanda memiliki resonansi historis karena keduanya pernah menjadi kekuatan kolonial di Nusantara. Belanda menjajah Indonesia selama lebih dari tiga abad, sementara Jepang menduduki Indonesia pada 1942-1945. Namun, di era modern, kedua negara menjadi mitra strategis Indonesia dalam investasi dan pembangunan infrastruktur. Lawatan Kaisar Naruhito mengingatkan bahwa diplomasi kerap kali dimulai dari pengakuan atas sejarah bersama.
Menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Rizki Amelia, kunjungan kenegaraan seperti ini memperkuat soft power Jepang di Eropa. โJepang menggunakan simbol-simbol kerajaan untuk membangun citra budaya yang halus namun berpengaruh. Ini berbeda dengan pendekatan diplomatik negara lain yang lebih agresif,โ ujarnya.
Setelah dari Apeldoorn, Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako dijadwalkan menuju Amsterdam pada Selasa (17/6) untuk menghadiri serangkaian acara kenegaraan sehari kemudian. Rangkaian kunjungan ini diharapkan dapat mempererat kerja sama bilateral di bidang perdagangan, teknologi, dan budaya. Pertanyaannya, akankah Indonesia suatu hari nanti menjadi tuan rumah kunjungan serupa dari Kaisar Jepang? Mengingat hubungan bilateral yang kian erat, bukan tidak mungkin momen tersebut akan terwujud dalam waktu dekat.



