PBB Desak Afrika Tingkatkan Pendanaan Domestik: Era Bantuan Asing Berakhir
Baca dalam 60 detik
- Penyusutan drastis dana pembangunan PBB memaksa negara-negara Afrika, termasuk Nigeria, mencari sumber pembiayaan alternatif.
- Kesenjangan pendanaan SDG Afrika mencapai 1,3 triliun dolar AS per tahun, dengan Nigeria menyumbang defisit 31,5 miliar dolar.
- Konferensi ASIS ke-5 di Lagos ditargetkan menghasilkan komitmen investasi minimal 500 juta dolar AS.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara terbuka memperingatkan negara-negara Afrika, termasuk Nigeria, bahwa era ketergantungan pada bantuan pembangunan asing telah berakhir dan mendesak mereka untuk segera memperkuat mobilisasi sumber daya domestik guna menutup kesenjangan pendanaan yang kian melebar.
Pernyataan tegas itu disampaikan Koordinator Residen dan Kemanusiaan PBB untuk Nigeria, Mohamed Fall, dalam konferensi pers di Abuja, Kamis (19/6/2025), bersamaan dengan peluncuran Africa Social Impact Summit (ASIS) ke-5. Fall mengungkapkan bahwa dana pembangunan PBB yang selama ini menjadi andalan telah menyusut drastis. "Jumlah sumber daya yang tersisa saat ini sulit dipercaya. Anggapan bahwa Barat akan terus mengucurkan dana ke PBB sudah tidak berlaku lagi," ujarnya.
Seruan ini muncul di tengah tren penurunan bantuan luar negeri global yang dipicu oleh tekanan fiskal di negara-negara donor. Bagi Indonesia, situasi serupa juga menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber pendanaan pembangunan, mengingat ketergantungan pada utang dan bantuan asing masih cukup tinggi. Langkah Afrika untuk beralih ke pendanaan domestik dapat menjadi preseden bagi negara-negara berkembang lainnya.
ASIS ke-5 yang akan digelar pada 22-24 Juli 2025 di Eko Convention Centre, Lagos, mengusung tema "Pembiayaan untuk Pembangunan: Membangun Ketahanan dan Mentransformasi Ekonomi Berkembang". Acara ini diharapkan dihadiri lebih dari 3.000 delegasi dari 50 negara dan ditargetkan menghasilkan kesepakatan investasi senilai minimal 500 juta dolar AS. Sejak pertama kali digelar pada 2022, platform ASIS telah memobilisasi lebih dari 1 miliar dolar AS dalam bentuk modal pembangunan.
CEO Sterling One Foundation, Olapeju Ibekwe, menekankan bahwa sumber daya publik saja tidak akan mampu menjembatani kesenjangan tersebut. Diperlukan mobilisasi modal swasta, filantropi, dan solusi pembiayaan campuran (blended finance). Ia mencontohkan kemitraan dengan ECOWAS Small Business Coalition yang berhasil menyalurkan investasi teknis senilai 2 juta dolar AS, menjangkau 12.500 usaha kecil di 12 negara Afrika Barat dan berdampak tidak langsung pada lebih dari 100.000 orang.
Managing Director Sterling Bank, Abubakar Suleiman, menegaskan bahwa ASIS bukan sekadar konferensi biasa, melainkan sebuah gerakan untuk mentransformasi ekonomi Afrika. "Afrika yang tangguh dan inklusif ada dalam jangkauan. Membangun masa depan itu dimulai dari keputusan yang kita ambil hari ini dan kemitraan yang kita bangun bersama," katanya.
Fall juga mendorong Nigeria untuk mengubah narasi dominan tentang ketidakamanan dan pemberontakan menjadi potensi ekonomi, inovasi, dan ketahanan. Ia menyoroti sektor swasta yang dinamis, ekosistem teknologi, Nollywood, dan industri Afrobeats sebagai motor pertumbuhan. "Aliko Dangote memproyeksikan perusahaannya menjadi perusahaan senilai 100 miliar dolar pada 2030, dan ia diikuti oleh banyak pengusaha di berbagai sektor," ujar Fall.
Pertanyaan kritis yang kini mengemuka: apakah negara-negara Afrika, termasuk Indonesia yang menghadapi tantangan serupa, mampu membangun institusi dan kebijakan yang cukup kuat untuk mengelola pendanaan domestik secara efektif tanpa terjebak dalam praktik korupsi dan inefisiensi? Jawabannya akan menentukan apakah benua ini benar-benar dapat mewujudkan potensi ekonominya atau justru semakin terpuruk dalam krisis pembiayaan.



