Trump Bawa 'Kesepakatan Iran' ke KTT G7: Terobosan atau Pengulangan Sejarah?
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump tiba di KTT G7 dengan mengklaim kesepakatan penghentian perang dengan Iran sebagai langkah besar bagi keamanan global dan stabilitas harga energi.
- Kesepakatan yang masih harus dirinci dalam 60 hari ke depan ini mencakup pembukaan Selat Hormuz, pencairan dana beku Iran, dan dana rekonstruksi $300 miliar, namun menuai skeptisisme dari Demokrat dan kalangan hawkish.
- Trump berencana mengalihkan fokus ke perang Rusia-Ukraina setelah kesepakatan Iran, sementara ketegangan dagang dengan Uni Eropa dan isu digital tax masih menjadi ganjalan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, dengan membawa klaim bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran yang baru saja diumumkannya merupakan terobosan besar bagi keamanan global. Dalam pertemuan dengan tuan rumah, Presiden Emmanuel Macron, Trump menyebut perjanjian itu akan menurunkan harga minyak dan mendongkrak pasar saham, serta membuka babak baru hubungan AS-Iran. Namun, di balik optimisme itu, sejumlah pemimpin Eropa dan kritikus di dalam negeri masih menyimpan keraguan.
Konflik 15 pekan antara AS dan Iran telah memicu lonjakan harga energi global dan mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Kesepakatan yang akan ditandatangani pada Jumat mendatang itu, menurut Trump, akan segera membuka selat tersebut dan mencabut blokade laut AS. Namun, pejabat senior AS mengakui butuh waktu berminggu-minggu agar lalu lintas kembali normal. Prancis dan Inggris telah menyatakan kesiapan membantu misi pembersihan ranjau di perairan strategis itu.
Macron menyambut positif kesepakatan tersebut, menyebutnya sebagai langkah penting bagi perdamaian dunia. Ia bahkan mengundang pemimpin Mesir, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk bergabung dalam sesi khusus Timur Tengah pada hari kedua KTT. Namun, ketegangan antara Trump dan sekutu Eropanya—terutama Inggris, Jerman, dan Italia—masih terasa akibat keputusan AS yang tidak berkonsultasi sebelum melancarkan perang.
Di dalam negeri, Trump menghadapi pertanyaan sulit tentang perbedaan kesepakatan ini dengan kesepakatan nuklir era Obama (JCPOA) yang pernah ia kecam. Memorandum of understanding yang dirancang mencakup pencairan dana beku Iran, keringanan sanksi, dan dana rekonstruksi $300 miliar—semua dikaitkan dengan pencapaian tolok ukur tertentu. Senator Mark Warner, Demokrat dari Komite Intelijen, mengkritik bahwa JCPOA memiliki pengamat internasional dan koalisi yang melibatkan Eropa, Rusia, dan China, sementara kesepakatan baru ini belum jelas mekanisme verifikasinya. Senator Lindsey Graham, sekutu Trump yang hawkish, juga menyatakan skeptisisme dan menuntut Kongres meninjau serta memberikan suara atas kesepakatan itu.
Selain isu Iran, KTT G7 juga diwarnai ketegangan dagang. Trump kembali mengancam akan memberlakukan tarif 100% untuk anggur Prancis jika Paris tidak mencabut pajak digital untuk perusahaan teknologi AS. Saat ini, anggur dan minuman keras Uni Eropa sudah dikenai tarif 15% di AS. Macron menolak ancaman itu, menegaskan bahwa bukan hak AS untuk menentukan hukum Eropa atau Prancis.
Perang Rusia-Ukraina juga menjadi agenda utama. Macron mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk sesi kerja dengan para pemimpin G7 pada hari Selasa. Meski Zelenskyy tidak dijadwalkan bertemu bilateral dengan Trump, Trump telah melakukan panggilan telepon terpisah dengan Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump menyatakan bahwa setelah kesepakatan Iran selesai, ia akan lebih fokus pada upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Ukraina. Namun, tawaran Zelenskyy untuk bertemu Putin di sela-sela KTT tidak mendapat tanggapan dari Kremlin.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, fluktuasi harga energi global akibat konflik di Timur Tengah selalu berdampak pada anggaran subsidi dan stabilitas harga domestik. Pembukaan Selat Hormuz yang lebih cepat dapat menekan harga minyak dan mengurangi beban fiskal. Namun, ketidakpastian mekanisme verifikasi kesepakatan Iran dan potensi kegagalan implementasi tetap menjadi risiko yang perlu dicermati. Selain itu, ketegangan dagang AS-Uni Eropa bisa mempengaruhi rantai pasok global, termasuk komoditas pertanian dan teknologi yang masuk ke Indonesia.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah kesepakatan Iran ini benar-benar akan membawa stabilitas jangka panjang, atau hanya sekadar jeda taktis sebelum konflik kembali memanas. Dengan tenggat waktu 60 hari untuk merinci poin-poin penting, dunia akan menyaksikan apakah Trump mampu membuktikan bahwa pendekatannya berbeda dari pendahulunya, atau justru mengulangi pola yang sama.



