ASEAN-Russia Perkuat Kerja Sama di Tengah Ketegangan Global: Deklarasi Kazan Jadi Pijakan
Baca dalam 60 detik
- KTT Peringatan ASEAN-Rusia di Kazan menghasilkan Deklarasi Kazan dan Rencana Aksi Komprehensif 2026โ2030 yang mencakup maritim, energi, dan keamanan.
- Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menekankan pentingnya dialog dan kerja sama di bidang penanggulangan bencana serta pendidikan, meski ada perbedaan sikap soal Ukraina.
- Bagi Indonesia, penguatan hubungan ASEAN-Rusia membuka peluang diversifikasi mitra dagang dan investasi di tengah rivalitas AS-China yang kian memanas.

ASEAN dan Rusia sepakat memperdalam kerja sama di berbagai bidang strategis melalui KTT Peringatan yang digelar di Kazan, Rusia, pada 17โ18 Juni lalu. Pertemuan yang menandai 35 tahun hubungan kedua pihak dan 30 tahun Kemitraan Dialog ASEAN-Rusia itu menghasilkan sejumlah dokumen penting, termasuk Deklarasi Kazan yang menjadi peta jalan kerja sama lima tahun ke depan.
Deklarasi tersebut mencakup penguatan kolaborasi di sektor maritim, perdagangan dan investasi, energi, konektivitas, keamanan, pendidikan, serta kebudayaan. Selain itu, para pemimpin mengadopsi Pernyataan Bersama tentang Kerja Sama Budaya dan Rencana Aksi Komprehensif ASEAN-Rusia 2026โ2030. Dokumen terakhir ini diharapkan menjadi panduan konkret bagi implementasi program bersama dalam setengah dekade mendatang.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, yang hadir mewakili negaranya, menegaskan bahwa ASEAN dan Rusia harus bekerja sama di bidang-bidang yang kepentingannya sejalan. โKita perlu memperkuat inisiatif yang mendorong dialog, membangun kepercayaan, dan berkontribusi pada perdamaian, stabilitas, serta pembangunan di kawasan dan sekitarnya,โ ujar Wong dalam pidatonya pada 18 Juni. Ia juga menyambut baik dukungan Rusia terhadap sentralitas ASEAN dan partisipasi aktif Moskow dalam forum-forum seperti ASEAN Regional Forum (ARF) dan East Asia Summit (EAS).
Menariknya, di tengah komitmen kerja sama, Wong secara eksplisit mengingatkan pentingnya menaati hukum internasional dan tatanan global berbasis aturan. Ia menekankan bahwa ASEAN konsisten menyerukan penyelesaian damai konflik sesuai hukum internasional, termasuk di Ukraina. Singapura sendiri telah menjatuhkan sanksi terhadap Rusia sejak 2022 dan masih memberlakukannya. Namun, Wong menegaskan bahwa perbedaan sikap tidak boleh menghalangi kerja sama di bidang-bidang yang saling menguntungkan.
โPercakapan kami menegaskan nilai dialog dan keterlibatan, bahkan ketika negara-negara tidak sepaham dalam setiap isu,โ tulis Wong di media sosial setelah bertemu bilateral dengan Presiden Vladimir Putin. Kedua pemimpin juga membahas hubungan bilateral dan perkembangan regional, serta prospek kerja sama saat Singapura memegang keketuaan ASEAN pada 2027.
Bagi Indonesia, penguatan hubungan ASEAN-Rusia memiliki implikasi strategis. Di tengah rivalitas AS-China yang kian tajam, diversifikasi mitra kerja sama menjadi keniscayaan. Rusia menawarkan akses ke teknologi energi, pasar senjata, dan potensi investasi di sektor infrastruktur. Namun, Indonesia juga harus menjaga keseimbangan agar tidak terperangkap dalam persaingan blok. Deklarasi Kazan bisa menjadi peluang bagi Jakarta untuk mendorong kerja sama konkret, misalnya di bidang ketahanan pangan dan energi, tanpa harus mengorbankan prinsip kebijakan luar negeri bebas aktif.
Ke depan, efektivitas kerja sama ASEAN-Rusia akan sangat tergantung pada kemampuan kedua pihak menjembatani perbedaan pandangan, terutama terkait konflik Ukraina dan ketegangan di Laut China Selatan. Akankah Rencana Aksi 2026โ2030 mampu menghasilkan proyek nyata yang dirasakan masyarakat, atau hanya akan menjadi dokumen seremonial belaka?



