Bitcoin Tembus $67.000: Lonjakan Dipicu Gencatan Senjata AS-Iran dan Short Squeeze
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin melesat 4,92% ke $67.228 dalam 24 jam setelah pengumuman kesepakatan damai AS-Iran yang meredakan ketegangan geopolitik.
- Volume perdagangan Bitcoin melonjak 111% menjadi $35 miliar, dengan likuidasi posisi short senilai $115,18 juta memperkuat momentum kenaikan.
- Analis memperingatkan reli bergantung pada progres kesepakatan Iran; level $66.000 menjadi support kunci untuk menguji resistensi $68.000.

Bitcoin (BTC) mencatat lonjakan signifikan ke level tertinggi dalam sepekan terakhir, menembus angka $67.000 pada Senin (19/6) setelah pengumuman kerangka kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga sebesar 4,92% dalam 24 jam itu membawa aset kripto terbesar dunia ke posisi $67.228, memicu euforia di pasar aset berisiko global.
Lonjakan ini tidak berdiri sendiri. Data dari bursa kripto menunjukkan volume perdagangan Bitcoin meroket 111% menjadi $35 miliar dalam periode yang sama. Para analis menilai katalis utama reli ini adalah meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Langkah tersebut langsung menekan harga minyak mentah Brent yang turun lebih dari 4%, sekaligus meredam kekhawatiran inflasi yang sebelumnya membebani pasar.
โPasar bereaksi cepat terhadap berkurangnya risiko makro. Investor yang sebelumnya wait and see kini kembali membuka posisi,โ ujar seorang analis pasar kripto yang dihubungi LyndHub. Efek domino terlihat dari aksi ambil untung di pasar saham dan kripto secara bersamaan.
Dari sisi teknikal, Bitcoin berhasil menembus level resistensi $64.000 dan rata-rata pergerakan 7 hari di $63.345. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di angka 41,7, menunjukkan masih ada ruang untuk kenaikan lebih lanjut sebelum memasuki zona jenuh beli. Namun, yang paling mencolok adalah fenomena short squeeze: likuidasi posisi short Bitcoin mencapai $115,18 juta dalam 24 jam, memaksa para spekulan menutup posisi mereka dengan kerugian besar.
Meski reli terlihat mengesankan, para pengamat mengingatkan bahwa keberlanjutan tren ini sangat bergantung pada perkembangan politik. Penandatanganan resmi kesepakatan AS-Iran dijadwalkan pada 19 Juni mendatang. Jika realisasi kesepakatan berjalan mulus, Bitcoin berpotensi menguji level resistensi $68.000 dalam waktu dekat. Sebaliknya, jika harga gagal bertahan di atas $66.000, koreksi menuju support $64.000 kembali terbuka.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat akan sensitivitas aset kripto terhadap sentimen global. Meski pasar domestik belum menunjukkan korelasi langsung, volatilitas Bitcoin kerap mempengaruhi pergerakan aset kripto lain yang diperdagangkan di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti terus mengingatkan risiko tinggi investasi kripto, terutama saat terjadi lonjakan harga yang dipicu faktor eksternal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah reli ini hanya bersifat sementara atau menjadi awal tren bullish baru. Dengan data ekonomi AS yang masih menunjukkan ketahanan dan potensi penurunan suku bunga The Fed, kondisi makro bisa mendukung aset berisiko. Namun, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi. Satu hal yang pasti: pasar kripto kembali membuktikan diri sebagai kelas aset yang paling responsif terhadap perubahan lanskap politik global.



