John Stones: Dari Ambang Pensiun Hingga Jadi Andalan Inggris di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Bek Inggris John Stones hampir pensiun karena cedera beruntun, namun kini justru menjadi starter di laga perdana Piala Dunia melawan Kroasia.
- Stones hanya tampil 18 kali untuk Manchester City musim lalu, tetapi pelatih Thomas Tuchel tetap memilihnya karena pengalaman dan ketahanan mental.
- Perjuangan Stones melawan cedera dan keraguan diri menjadi inspirasi bagi atlet muda Indonesia yang kerap menghadapi tekanan serupa.

John Stones, bek senior timnas Inggris, akan memulai laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Kroasia pada Rabu (21.00 BST) โ sebuah pencapaian yang nyaris tak terbayangkan saat ia berada di titik terendah kariernya tahun lalu. Pemain berusia 32 tahun itu mengaku sempat mempertimbangkan pensiun setelah serangkaian cedera yang menghantuinya, namun kini ia menjadi salah satu pilar utama skuad asuhan Thomas Tuchel.
Stones mengungkapkan bahwa ia harus "menggali lebih dalam" untuk melewati masa-masa paling sulit dalam kariernya. "Itu adalah periode yang berat ketika saya mengatakan hal itu [tentang pensiun], dan saya berharap tidak akan sampai ke titik itu lagi," ujarnya kepada BBC Sport. Ia mengakui sering membandingkan perjalanannya dengan pemain lain, bertanya-tanya mengapa cedera terus menghampirinya. Namun, ketahanan mental yang ia bangun justru menjadi kunci kebangkitannya.
Musim lalu, Stones hanya bermain 439 menit di Premier League bersama Manchester City โ setara dengan 18 penampilan di semua kompetisi. Cedera paha membuatnya absen dua bulan, dan masalah betis memaksanya melewatkan dua laga uji coba Inggris sebelum skuad final diumumkan. Meski demikian, Tuchel tetap memercayainya, memilih Stones di atas Harry Maguire dan Levi Colwill. "Dia masih menjadi bagian besar dari rencana saya dan memiliki banyak kredit di bank," kata Tuchel.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Stones relevan dengan perjuangan pemain lokal yang kerap menghadapi tekanan fisik dan mental. Cedera beruntun sering menjadi momok bagi atlet Tanah Air, seperti yang dialami beberapa pemain timnas. Stones membuktikan bahwa pemulihan bukan hanya soal fisik, melainkan juga kekuatan batin. "Saya merasa salah satu pencapaian terbesar saya adalah terus bangkit dari kemunduran, tidak peduli sebesar apa pun itu," tegasnya.
Stones mengaku reaksinya saat mendapat panggilan dari Tuchel seperti anak kecil yang tak bisa menahan kegembiraan. "Itu seperti pertama kali, kegembiraan murni keluar dari diri saya," katanya. Ia menambahkan bahwa Tuchel menghargai kemampuan para pemain untuk menjadi diri sendiri di dalam tim. Dengan pengalaman mencapai semifinal dan perempat final di dua Piala Dunia sebelumnya, Stones diharapkan menjadi jangkar pertahanan Inggris di turnamen ini.
Pertanyaan besarnya: dapatkah Stones menjaga kebugarannya sepanjang turnamen? Jika ya, ia berpotensi menjadi pilar utama Inggris melangkah jauh. Namun, jika cedera kembali menghantuinya, Tuchel harus siap dengan opsi lain seperti Marc Guehi atau Ezri Konsa. Satu hal yang pasti, perjalanan Stones dari ambang pensiun hingga menjadi starter di Piala Dunia adalah bukti bahwa ketekunan dan mental baja bisa mengubah takdir.



