Watford Kembali Gaet Pelatih Italia: Dionisi Jadi Eksperimen Ke-24 Era Pozzo
Baca dalam 60 detik
- Watford resmi menunjuk Alessio Dionisi sebagai pelatih kepala dengan kontrak dua tahun, menggantikan Ed Still yang dipecat setelah hanya tiga bulan menjabat.
- Dionisi adalah manajer Italia kelima di bawah kepemilikan keluarga Pozzo dan pelatih ke-24 sejak 2012, mencerminkan kebijakan rotasi ekstrem klub.
- Dengan rekor promosi Serie B bersama Empoli, Dionisi diharapkan membawa stabilitas setelah musim kacau yang diakhiri di peringkat 16 Championship.

Watford kembali mempertaruhkan masa depannya pada pelatih asal Italia. Alessio Dionisi, 46 tahun, resmi diikat kontrak dua tahun untuk menangani tim yang musim lalu hanya finis di peringkat 16 Championship, 16 poin dari zona play-off. Keputusan ini menambah panjang daftar eksperimen klub di bawah kepemilikan keluarga Pozzo yang sudah berganti pelatih sebanyak 24 kali sejak 2012.
Dionisi menggantikan Ed Still yang dipecat pada 3 Mei lalu setelah kekalahan telak 4-0 dari Coventry City di laga pamungkas. Still hanya bertahan kurang dari tiga bulan, menjadikannya korban terbaru dari kebijakan rotasi pelatih yang menjadi ciri khas Watford. Sejak akhir musim 2020-21, klub telah melalui 12 pelatih permanen—belum termasuk caretaker—dengan rata-rata masa kerja kurang dari setahun.
Direktur olahraga Gianluca Nani mengungkapkan bahwa Dionisi sudah lama masuk radar klub. "Kami mencari pelatih berpengalaman yang pernah memenangi liga dan promosi, dan Alessio memenuhi kriteria itu," ujarnya. Dionisi memang pernah membawa Empoli juara Serie B pada 2020-21 sebelum pindah ke Sassuolo menggantikan Roberto de Zerbi. Namun, kariernya di Empoli pada musim lalu berakhir dengan pemecatan pada Maret setelah hanya meraih lima kemenangan dalam 22 pertandingan.
Watford harus bernegosiasi dengan Empoli untuk melepas Dionisi yang masih terikat kontrak hingga 2027. Dalam skema pembelian, Dionisi akan membawa serta Luca Vigiani—yang pernah bekerja di Watford era Walter Mazzarri—sebagai analis, serta Fabio Spighi sebagai kepala performa fisik. Ini menjadi pekerjaan ke-10 Dionisi dalam 12 tahun karier kepelatihannya, sekaligus pengalaman pertamanya di luar Italia.
CEO Watford, Scott Duxbury, sebelumnya mengakui kesalahan manajemen musim lalu dalam pernyataan resmi di situs klub, menyebut akhir musim sebagai "tidak bisa diterima" dan "sangat mengecewakan". Kekacauan itu dimulai setelah pemecatan Tom Cleverley di akhir musim 2024-25, diikuti tiga pelatih permanen yang silih berganti tanpa hasil memuaskan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kebijakan Watford menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana rotasi pelatih ekstrem bisa berdampak pada performa tim. Di Liga Indonesia, beberapa klub juga kerap berganti pelatih dalam waktu singkat, namun jarang yang mencapai frekuensi setinggi Watford. Dionisi diharapkan membawa pendekatan taktis khas Italia yang lebih terstruktur, meski tantangan adaptasi di Championship tidak mudah.
Pertanyaan besarnya: akankah Dionisi bertahan lebih lama dari pendahulunya? Dengan kontrak hanya dua tahun dan reputasi klub yang gemar memecat, tekanan sudah menanti sejak hari pertama. Jika Watford ingin kembali ke Premier League, stabilitas di kursi pelatih menjadi prasyarat mutlak—sesuatu yang belum pernah mereka miliki dalam satu dekade terakhir.



