Birmingham Pasang Harga Rp600 Miliar untuk Stansfield, Everton Waspada
Baca dalam 60 detik
- Everton bergabung dalam perburuan striker muda Jay Stansfield, yang musim lalu terlibat dalam 16 gol bersama Birmingham City.
- Birmingham mematok banderol rekor klub sebesar £30 juta (lebih dari Rp600 miliar) untuk Stansfield, melebihi harga Jude Bellingham saat ke Dortmund.
- Meski diminati empat klub Premier League, analis meragukan Stansfield bisa langsung menjadi solusi lini depan Everton yang kerap tumpul.

Everton harus berpikir dua kali sebelum mengeluarkan dana besar untuk merekrut Jay Stansfield dari Birmingham City. Klub Championship itu dikabarkan meminta harga rekor klub—lebih dari €35 juta atau sekitar £30 juta—untuk striker berusia 23 tahun yang musim lalu terlibat dalam 16 gol. Angka tersebut bahkan melampaui biaya yang dikeluarkan Borussia Dortmund untuk Jude Bellingham pada 2020.
Menurut laporan SportsBoom yang dikutip FootballFanCast, Everton bergabung dengan Hull City, Ipswich Town, dan Sunderland dalam perburuan Stansfield. Namun, di balik reputasinya sebagai salah satu pemain paling diminati di Inggris, muncul keraguan apakah ia layak dihargai setinggi itu. Manajer Everton, David Moyes, yang musim lalu nyaris membawa timnya ke Eropa, kini dihadapkan pada kebutuhan mendesak akan penyerang tajam—sesuatu yang belum terbukti bisa dipenuhi Stansfield.
Birmingham sendiri berada dalam tekanan setelah gagal menembus play-off Championship di musim pertama mereka kembali ke divisi dua. Meski telah menggelontorkan dana besar untuk pemain seperti Kyogo Furuhashi, The Blues hanya finis di peringkat ke-10. Jika musim depan kembali gagal promosi, klub St. Andrew's itu terancam kehilangan bintang-bintangnya, termasuk Stansfield. Harga tinggi yang mereka pasang bisa menjadi strategi untuk memaksimalkan keuntungan sebelum sang pemain hengkang.
Bagi Everton, keputusan ini tidak sederhana. Klub asal Merseyside itu memang membutuhkan penyerang setelah lini depan mereka kerap mandul musim lalu. Namun, Stansfield—meski masih muda—belum menunjukkan konsistensi sebagai mesin gol di level tertinggi. Moyes lebih baik mencari opsi lain yang lebih siap tempur daripada mempertaruhkan dana besar untuk pemain yang belum teruji di Premier League. Apalagi, Everton juga tengah mengejar Hayden Hackney dari Middlesbrough, yang menunjukkan bahwa prioritas mereka mungkin ada di lini tengah.
Dari perspektif Indonesia, pergerakan transfer ini menarik untuk diikuti karena menunjukkan bagaimana klub Championship mampu mematok harga selangit untuk pemain muda potensial. Fenomena ini mirip dengan kasus pemain Asia Tenggara yang kerap dilego dengan nilai tinggi setelah menonjol di liga Eropa. Jika Stansfield benar-benar pindah dengan harga tersebut, ia akan menjadi salah satu transfer termahal dari Championship ke Premier League musim panas ini, sekaligus menjadi tolok ukur baru bagi klub-klub Inggris dalam menilai talenta muda.
Pertanyaan besarnya: akankah Everton nekat membayar mahal untuk Stansfield, atau mereka akan mundur dan mencari striker lain yang lebih terbukti? Jawabannya akan menentukan arah bursa transfer musim panas ini, terutama bagi klub-klub yang berlomba memperkuat lini depan.



