Raducanu Gagal Juara Queen's, Tapi Raih Modal Berharga Menuju Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Emma Raducanu kalah dari Donna Vekic di final Queen's, namun performa sepanjang turnamen menjadi sinyal positif jelang Wimbledon.
- Kembalinya pelatih Andrew Richardson terbukti ampuh mengembalikan permainan agresif dan percaya diri Raducanu di lapangan rumput.
- Raducanu menunjukkan peningkatan mental dengan bangkit di set kedua, meski akhirnya takluk, dan kini fokus mempertahankan momentum ke Grand Slam.

Emma Raducanu harus mengakui keunggulan Donna Vekic di final Queen's Club, Minggu, dalam pertandingan dua set langsung yang menegaskan bahwa gelar WTA pertamanya sejak US Open 2021 masih harus ditunggu. Namun, di balik kekalahan yang menyakitkan itu, petenis Inggris berusia 23 tahun ini justru menemukan kembali permainan terbaiknya di lapangan rumput—sebuah modal krusial menjelang Wimbledon yang tinggal dua pekan lagi.
Raducanu, yang tampil tanpa kehilangan satu set pun sebelum final, akhirnya menyerah 6-4, 6-4 setelah gagal menyelamatkan championship point kelima. "Saat ini pasti sangat perih. Saya akan membiarkan diri merasakannya hari ini, tapi segera bangkit," ujarnya seusai laga. Kekalahan ini memperpanjang puasa gelar sejak kejutan fenomenal di Flushing Meadows, namun minggu di London barat itu memberikan lebih banyak hal positif daripada sekadar hasil akhir.
Kunci kebangkitan Raducanu tak lepas dari keputusan merekrut kembali Andrew Richardson, pelatih yang membimbingnya saat juara US Open. Di bawah arahan Richardson, Raducanu memenangi 14 dari 17 pertandingan dalam empat turnamen yang diikuti. Gaya kepelatihan old-school yang menekankan volume latihan dan kebiasaan baik langsung terlihat: servis dan groundstroke Raducanu kembali bertenaga, pergerakannya di rumput lincah dan percaya diri—sebuah keunggulan dibanding banyak petenis yang terbiasa dengan tanah liat atau keras.
"Saya pikir saya bermain cukup bebas, cukup agresif, dan menemukan keseimbangan yang tepat," kata Raducanu. "Saya mengembalikan dengan baik, servis cukup bagus. Itu penting di rumput." Statistik mendukung: ia menaklukkan dua pemain top-20, Sorana Cirstea dan Iva Jovic, serta melewati cedera untuk memenangi dua pertandingan pada Sabtu. Lebih dari itu, semangat juangnya diuji saat tertinggal di set kedua—ia bangkit memaksa Vekic bekerja keras sebelum akhirnya kehabisan tenaga.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Raducanu ini menarik karena ia menjadi salah satu figur yang kerap diikuti—seperti petenis Asia lainnya. Kesuksesannya di US Open 2021 sebagai qualifier menginspirasi banyak petenis muda di kawasan. Jika ia mampu mempertahankan level permainan ini di Wimbledon, bukan tidak mungkin ia kembali menjadi ancaman serius di Grand Slam. Apalagi, Raducanu memiliki rekor cukup baik di All England Club: selain kemenangan di New York, Wimbledon adalah satu-satunya major di mana ia pernah mencapai pekan kedua.
Pertanyaan tentang ketangguhan mental Raducanu perlahan terjawab. "Saya berhasil kembali ke set kedua dan saya bangga dengan cara saya bertarung. Itu bukan sesuatu yang selalu saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya, jadi itu positif," ujarnya. Namun, tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi. Pola musimnya kerap berulang: cedera di awal, harapan di musim semi, kegagalan di tanah liat, lalu mekar di rumput Inggris. Kini ia harus mematahkan siklus itu.
Dengan Wimbledon di depan mata, Raducanu memilih tidak bermain di turnamen Nottingham pekan depan untuk fokus berlatih. "Menjelang Wimbledon, Anda ingin sebanyak mungkin pertandingan di rumput. Pekan ini luar biasa—saya memainkan lima pertandingan di rumput. Itu pasti positif. Anda ambil yang berhasil, yang tidak, dan terapkan saat bermain nanti," pungkasnya. Pertanyaan besarnya: akankah "Emma baru" ini mampu melampaui pencapaian dua tahun lalu di Wimbledon, atau justru kembali terjebak dalam pola yang sama?



