Beban Politik di Piala Dunia: Striker Iran Akui Ketegangan Rusak Semangat Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Iran harus memindahkan base camp dari Arizona ke Tijuana karena masalah visa dan keamanan, menambah tekanan politik menjelang laga perdana.
- Striker Mehdi Taremi dan pelatih Amir Ghalenoei mengakui situasi politik mengganggu fokus tim, meski berusaha tetap profesional.
- Diaspora Iran di Los Angeles bersiap memprotes larangan bendera Lion and Sun, menambah lapisan kompleksitas di luar lapangan.

Ketika Iran turun ke lapangan SoFi Stadium, Los Angeles, Senin (Selasa dini hari WIB) untuk melawan Selandia Baru, mereka tidak hanya membawa taktik dan strategi, tetapi juga beban politik yang jarang dialami tim mana pun di Piala Dunia. Striker andalan Iran, Mehdi Taremi, secara terbuka mengakui bahwa ketegangan politik yang menyelimuti keikutsertaan timnya telah menggerogoti kegembiraan bermain di turnamen paling bergengsi ini.
"Ketegangan ini merusak kegembiraan Piala Dunia," ujar Taremi dalam konferensi pers. "Saya merasakannya sejak pertama kali tiba. Ketegangan sudah dimulai bahkan sebelum kami sampai di sini." Pernyataan itu mencerminkan kondisi unik yang dihadapi Iran: tim yang datang dengan beban sejarah konflik dengan tuan rumah Amerika Serikat, masalah visa, dan harus memindahkan base camp dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko, hanya beberapa pekan sebelum turnamen.
Keputusan memindahkan markas dilatarbelakangi kekhawatiran akan keamanan dan iklim politik yang semakin memanas. Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, menegaskan bahwa gangguan ini pasti berdampak pada persiapan. "Tanpa keraguan, perilaku seperti ini telah memengaruhi semangat sepak bola. Sepak bola seharusnya menyatukan bangsa dan budaya, membawa kegembiraan. Kondisi ini mengganggu fokus kami, tetapi saya berusaha memastikan pemain berkonsentrasi pada strategi dan performa," katanya kepada BBC.
Di luar lapangan, tekanan datang dari diaspora Iran yang besar di Los Angeles. Banyak dari mereka yang memusuhi rezim Iran dan melihat tim nasional sebagai perpanjangan tangan pemerintah. FIFA telah melarang penggunaan bendera Lion and Sun—simbol yang sangat berarti bagi warga Iran di luar negeri—dan memicu kemarahan. "Anda tidak datang ke Los Angeles dan memberi tahu kami bahwa kami tidak bisa mengibarkan bendera Lion and Sun," kata aktivis Arezo Rashidian, yang ikut mengorganisir demonstrasi di luar stadion. "Ini adalah komunitas Iran terbesar di luar Iran. Banyak dari kami datang setelah revolusi. Kami menentang larangan FIFA dan berdiri bersama rakyat Iran."
Meskipun ada protes, para pemain Iran bersikeras bahwa mereka hanya fokus pada sepak bola. Taremi menyatakan, "Sebagai pemain tim nasional, kami bermain untuk setiap warga Iran, baik di diaspora maupun di Iran. Kami di sini untuk menyatukan orang dan membawa kegembiraan. Setiap orang berhak atas pendapatnya. Kami tidak terlibat politik." Namun, jurnalis investigasi sepak bola Samindra Kunti menilai, "Tidak ada kemenangan bagi tim Iran. Mengingat keadaan, tekanan politik, lokasi pertandingan, dan diaspora di Los Angeles, mereka berada di bawah tekanan luar biasa. Tidak mungkin menghindari politik. Semuanya menjadi pengingat situasi mereka."
Bagi Indonesia, kisah Iran menjadi pengingat betapa sepak bola bisa menjadi arena politik yang rumit. Meskipun Indonesia tidak menghadapi tekanan eksternal seperti Iran, dinamika politik domestik dan isu hak asasi manusia kerap mewarnai penyelenggaraan turnamen. Pertanyaan yang muncul: mampukah sepak bola tetap menjadi alat pemersatu di tengah perpecahan politik, atau justru akan terus menjadi korban dari kepentingan di luar lapangan?



