Angelina Jolie: Film Baru Couture Jadi Cermin Perjuangan Melawan Kanker dan Kehidupan
Baca dalam 60 detik
- Angelina Jolie mengaku film 'Couture' sangat personal karena mengangkat tema harapan di tengah diagnosis kanker dan perceraian, sejalan dengan pengalaman pribadinya.
- Aktris berusia 50 tahun itu menjalani syuting sambil mengenakan kalung ibunya yang meninggal akibat kanker, menjadikan proses kreatif sebagai terapi penyembuhan.
- Film ini menyoroti pentingnya empati dan kebersamaan dalam menghadapi tantangan hidup, pesan yang relevan bagi penonton Indonesia yang kerap menghadapi stigma kanker.

Angelina Jolie kembali menyapa layar lebar lewat film terbarunya, Couture, yang baginya bukan sekadar proyek akting biasa. Dalam wawancara terbaru, bintang pemenang Oscar ini mengungkapkan bahwa film garapan sutradara Alice Winocour itu terasa sangat personal karena mengisahkan seorang perempuan yang harus berhadapan dengan diagnosis kanker payudara di tengah proses perceraian, namun tetap memilih untuk merayakan hidup hingga napas terakhir.
“Film ini bukan tentang akhir bagi karakter saya, melainkan tentang keinginan baru untuk menjalani hidup sampai detik terakhir. Itu sangat bergema dengan diri saya saat ini,” ujar Jolie kepada People. Ia menambahkan, pesan harapan dan empati yang diusung film ini diyakini bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi penonton. “Menunjukkan bagaimana setiap orang menghadapi hal-hal yang membuat kita sangat manusiawi, dan jika kita bisa saling bersandar serta memiliki lebih banyak empati, kita akan menjadi lebih baik dan tidak merasa sendirian.”
Bagi Jolie, Couture bukan sekadar film drama biasa. Ia mengaku bahwa lima tahun lalu, dirinya mungkin belum cukup kuat untuk memerankan karakter ini. “Untuk bisa terbuka, percaya, berbagi, dan menjadi rentan lagi,” katanya. Keterbukaan ini tidak lepas dari sejarah keluarganya: sang ibu, Marcheline Bertrand, meninggal karena kanker ovarium dan payudara pada 2007, sementara bibi dan neneknya juga meninggal akibat penyakit yang sama. Jolie sendiri menjalani mastektomi ganda preventif pada 2013 karena membawa gen BRCA1.
Proses syuting Couture menjadi pengalaman yang sangat emosional sekaligus menyembuhkan bagi Jolie. Ia bahkan mengenakan kalung milik ibunya selama syuting untuk merasa lebih dekat. “Saya merasa sangat rentan. Film ini terasa begitu pribadi, bahkan dalam pikiran saya, ini mungkin satu-satunya film yang tidak terasa seperti film,” ungkapnya kepada Variety. Meski sadar akan memunculkan banyak hal personal, Jolie justru menemukan kenyamanan di lokasi syuting. “Saya selalu menemukan bahwa film-film terberat cenderung memiliki set yang paling penuh kasih. Ada sesuatu yang menenangkan dari percakapan nyata dan perasaan nyata dalam sebuah komunitas bersama.”
Ia menambahkan, “Satu dari tiga orang mengidap kanker, dan hampir semua orang pernah berada di ruang rumah sakit bersama orang yang mereka cintai. Semua orang di set pernah kehilangan seseorang yang mereka cintai. Anda menyadari bahwa hidup itu rapuh dan waktu berjalan cepat, orang-orang pergi yang kita tidak bisa bayangkan dunia ini ada tanpa mereka.”
Di Indonesia, isu kanker payudara masih menjadi momok yang kerap dihadapi dengan stigma dan keterlambatan penanganan. Menurut data Globocan 2020, kanker payudara merupakan jenis kanker dengan kasus terbanyak di Indonesia, dengan lebih dari 65.000 kasus baru setiap tahun. Pesan film Couture tentang harapan dan dukungan komunitas bisa menjadi angin segar bagi para pejuang kanker dan keluarga mereka. “Film seperti ini mengingatkan kita bahwa tidak ada yang berjuang sendirian,” ujar seorang psikolog klinis yang enggan disebutkan namanya. “Empati dan dukungan sosial adalah kunci dalam proses penyembuhan, baik fisik maupun mental.”
Selain tantangan emosional, Jolie juga belajar bahasa Prancis untuk perannya. Sutradara Alice Winocour memuji dedikasinya: “Dia benar-benar tenggelam dalam peran dan terobsesi dengan ide berbicara bahasa Prancis, bahkan lebih dari saya. Ibunya orang Prancis, jadi ada banyak hal yang sangat intim. Dia benar-benar mendedikasikan dirinya untuk film ini.”
Dengan segala lapisan personal dan universal yang diusung, Couture tampaknya akan menjadi salah satu film paling menyentuh tahun ini. Pertanyaannya, apakah penonton Indonesia siap menerima pesan rawannya dengan hati terbuka? Atau justru film ini akan memicu diskusi lebih luas tentang deteksi dini dan dukungan bagi pasien kanker di tanah air?



