Tyra Banks Gugat Netflix: Dokuseri ANTM Dinilai Cemarkan Nama Baik
Baca dalam 60 detik
- Tyra Banks menggugat Netflix atas dokuseri Reality Check: Inside America's Next Top Model yang dinilai memanipulasi wawancara dan mencemarkan nama baiknya.
- Gugatan menyoroti praktik editing selektif yang menghilangkan konteks pernyataan Banks, termasuk soal dugaan pelecehan seksual kontestan.
- Kasus ini berpotensi memengaruhi standar produksi dokuseri di industri hiburan global, termasuk platform streaming di Indonesia.

Tyra Banks resmi menggugat Netflix ke pengadilan atas dokuseri Reality Check: Inside America's Next Top Model yang tayang tahun ini. Mantan supermodel berusia 52 tahun itu mengklaim bahwa cara ia digambarkan dalam serial tersebut telah menyebabkan “penderitaan mental yang signifikan” dan merugikan kariernya.
Dalam gugatan yang diajukan di pengadilan California, Banks menuding para produser Netflix hanya menggunakan 16 menit dari wawancara selama tiga setengah jam yang ia berikan. Potongan-potongan itu, menurut pengacara Banks, “dihilangkan konteksnya dan dirakit ulang untuk mendukung narasi palsu dan fitnah yang tidak ada hubungannya dengan apa yang sebenarnya ia ungkapkan.” Dokumen pengadilan yang diperoleh People menyebut Banks awalnya bersedia berpartisipasi karena ingin memberikan pandangan jujur tentang warisan acara America's Next Top Model (ANTM), termasuk sisi positif dan kekurangannya.
Gugatan secara spesifik menyoroti penggambaran Banks seolah-olah ia dengan sengaja membiarkan seorang kontestan dilecehkan secara seksual di acaranya, mengeksploitasi trauma kontestan demi rating, dan bahkan tidak mengingat kejadian tersebut saat ditanya. Banks membantah keras narasi itu. “Itu adalah fabrikasi total—yang Netflix siarkan ke jutaan pemirsa global,” demikian bunyi gugatan. Dalam dokumen, disebutkan bahwa produser memotong momen ketika Banks mengangguk dan berkata “Saya ingat ceritanya” sehingga penonton hanya melihat kebingungan di wajahnya.
Kasus ini juga mengungkap klaim bahwa Banks pernah menghentikan produksi satu siklus ANTM setelah seorang kru melaporkan adanya pola perilaku seksual tidak pantas oleh anggota tetap. Banks disebut segera melaporkan kejadian itu ke eksekutif lain dan memastikan masalahnya naik ke jaringan. Produksi dihentikan sementara agar seluruh kru dan pemain menjalani pelatihan pelecehan seksual. Namun, dalam dokuseri, langkah ini tidak ditampilkan.
Bagi industri hiburan Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya etika produksi dokuseri. Platform streaming seperti Netflix semakin populer di Tanah Air, dan praktik editing yang tidak transparan bisa memicu gugatan serupa. Pengamat media menilai bahwa tuntutan Banks berpotensi mendorong standar baru dalam penyajian dokuseri, terutama yang melibatkan figur publik. “Ini soal kepercayaan. Penonton berhak mendapatkan fakta, bukan narasi yang direkayasa,” ujar seorang analis media.
Tyra Banks meminta kasusnya disidangkan dengan juri untuk menentukan jumlah ganti rugi yang “pantas”. Ia juga menyoroti pernyataan sutradara Mor Loushy yang mengklaim bahwa Banks diberi kesempatan untuk “berbagi sisi ceritanya” dan bahwa jawabannya “sangat jujur”. Namun, gugatan menegaskan: “Ia memang berbagi sisi ceritanya. Jawabannya jujur. Tapi cerita yang didengar penonton adalah cerita menipu yang dipilih produser.”
Ke depannya, pertanyaan besar adalah apakah Netflix akan memilih menyelesaikan kasus di luar pengadilan atau membiarkan proses hukum berjalan. Jika kasus ini berlanjut, bisa menjadi preseden baru dalam hukum media dan dokumenter di era streaming.