Bungie Terancam PHK Massal 50% Karyawan, Destiny 2 Jadi Kambing Hitam
Baca dalam 60 detik
- Bungie, studio di balik Destiny 2, dikabarkan akan memberhentikan setidaknya setengah dari total 1.220 karyawannya pada musim panas ini.
- Laporan dari jurnalis BFMTV mengaitkan rencana PHK ini dengan penghentian pengembangan Destiny 2 dan performa buruk game terbaru mereka, Marathon.
- Jika terkonfirmasi, langkah ini akan menjadi pukulan telak bagi industri game global dan berpotensi mempengaruhi strategi Sony di pasar Asia, termasuk Indonesia.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri game kembali menerpa. Kali ini, Bungie—studio pengembang di balik seri legendaris Destiny 2—dilaporkan akan memangkas lebih dari separuh tenaga kerjanya pada musim panas tahun ini. Kabar ini muncul di tengah gejolak yang melanda divisi PlayStation milik Sony, menyusul langkah serupa yang sebelumnya dilakukan oleh Xbox.
Menurut laporan Sylvain Trinel, jurnalis dari BFMTV, Bungie berencana memberhentikan setidaknya 50% dari total 1.220 karyawannya, baik tetap maupun kontrak. Angka ini setara dengan lebih dari 600 orang yang berpotensi kehilangan pekerjaan. Trinel menyebutkan bahwa keputusan drastis ini dipicu oleh dua faktor utama: penghentian pengembangan Destiny 2 dan performa yang mengecewakan dari proyek terbaru mereka, Marathon. Hingga berita ini diturunkan, Sony selaku induk perusahaan belum memberikan konfirmasi atau bantahan resmi.
Kabar PHK massal ini menjadi ironi mengingat Bungie baru saja diakuisisi oleh Sony pada tahun 2022 dengan nilai mencapai 3,6 miliar dolar AS. Akuisisi tersebut bertujuan untuk memperkuat posisi Sony di segmen game live-service. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa transisi tersebut tidak berjalan mulus. Destiny 2, yang sempat menjadi andalan, mulai kehilangan pemain setia akibat konten yang stagnan dan keputusan pengembang yang kontroversial. Sementara itu, Marathon—game tembak-menembak yang digadang-gadang sebagai penerus—gagal menarik minat pasar.
Dampak dari rencana PHK ini tidak hanya dirasakan oleh karyawan Bungie, tetapi juga oleh ekosistem game global. Bagi Indonesia, industri game lokal yang masih bertumpu pada pengembangan konten dan layanan dari studio-studio besar dunia akan terkena imbasnya. Banyak pengembang independen Tanah Air yang bergantung pada platform dan teknologi yang dikembangkan oleh Bungie, seperti engine Destiny 2. Jika PHK terjadi, risiko penundaan pembaruan atau bahkan penghentian dukungan teknis bisa menghambat pertumbuhan game-game buatan anak bangsa.
Para analis menilai bahwa langkah Bungie ini mencerminkan krisis yang lebih luas di industri game, di mana perusahaan raksasa cenderung melakukan efisiensi besar-besaran setelah masa ekspansi agresif. “Ini adalah sinyal bahwa model bisnis live-service tidak semenguntungkan yang dibayangkan,” ujar seorang pengamat industri yang enggan disebut namanya. “Bungie mungkin harus memikirkan ulang strategi jangka panjangnya, termasuk kemungkinan merilis game single-player atau merambah platform lain.”
Ke depan, publik menanti respons resmi dari Sony. Apakah perusahaan asal Jepang itu akan turun tangan menyelamatkan studio andalannya, atau justru membiarkan Bungie berdarah-darah? Yang jelas, nasib ribuan karyawan dan masa depan waralaba Destiny 2 kini berada di ujung tanduk.



