Aktivitas Magma Meningkat, Radius Aman Gunung Karangetang Diperluas
Baca dalam 60 detik
- Badan Geologi mencatat lonjakan gempa vulkanik dalam hingga 70 kejadian per hari pada 11 Juni 2026, menandakan pergerakan magma ke permukaan.
- Meskipun aktivitas seismik meningkat drastis, kolom asap masih normal setinggi 20 meter, menunjukkan potensi erupsi belum terlihat secara visual.
- Zona larangan diperluas hingga radius 2,5 kilometer di sektor barat daya dan selatan kawah selatan untuk mengantisipasi guguran awan panas.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2779667/original/043284400_1555382009-IMG-20190415-WA0413.jpg)
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendeteksi lonjakan signifikan aktivitas kegempaan Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, yang mengindikasikan pergerakan suplai magma dari perut bumi menuju permukaan. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan terjadinya erupsi atau pembentukan kubah lava baru dalam waktu dekat.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa peningkatan aktivitas terekam sejak awal Juni 2026. Pada periode 1-10 Juni, instrumen mencatat 100 kali gempa vulkanik dalam, 20 kali gempa vulkanik dangkal, serta puluhan gempa hybrid dan tremor. Lonjakan tajam terjadi pada 11 Juni dengan 70 gempa vulkanik dalam dalam sehari, diikuti fluktuasi pada 12-13 Juni berupa peningkatan gempa hybrid dan tremor nonharmonik.
Menariknya, meskipun aktivitas seismik melonjak, kondisi visual Gunung Karangetang masih tergolong normal. Kolom asap dari puncak hanya mencapai ketinggian 20 meter, tidak menunjukkan anomali yang berarti. Namun, menurut analisis Badan Geologi, rangkaian gempa vulkanik dangkal, hybrid, dan guguran setelah lonjakan gempa dalam merupakan indikator kuat bahwa fluida di permukaan mulai mengganggu keseimbangan kubah lava yang ada. Ini adalah sinyal bahwa gunung api sedang bersiap menuju fase erupsi atau efusif (lelehan lava).
Potensi bahaya utama Gunung Karangetang adalah erupsi magmatik dan guguran awan panas yang dapat meluncur ke lembah di bawah kawah utara maupun selatan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi jarak aman yang diperketat. Masyarakat dilarang memasuki radius 1,5 kilometer dari pusat kawah utara dan selatan. Khusus di sektor barat daya dan selatan, zona bahaya diperluas hingga 2,5 kilometer dari kawah selatan.
Pemerintah daerah bersama PVMBG mengimbau warga untuk tetap tenang dan mengikuti arahan resmi. Masyarakat diminta tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. Kepala Badan Geologi menekankan pentingnya kewaspadaan mengingat karakteristik Gunung Karangetang yang dapat berubah cepat. "Masyarakat harus menjauhi zona berbahaya dan selalu siap siaga," ujar Lana Saria dalam laporannya.
Bagi Indonesia, aktivitas Gunung Karangetang menjadi pengingat akan risiko geologis yang mengintai wilayah kepulauan. Dengan banyaknya gunung api aktif, kesiapsiagaan dan mitigasi bencana menjadi krusial. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat erupsi akan terjadi dan apakah perluasan zona bahaya akan berdampak pada aktivitas ekonomi warga sekitar.



