Konflik Iran-Israel Justru Memukul Emas: Inflasi dan Suku Bunga Tinggi Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Harga emas global ambles 20% dari puncaknya akibat kekhawatiran inflasi yang dipicu blokade Selat Hormuz, bukan karena meredanya ketegangan geopolitik.
- Suku bunga tinggi membuat emas kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai, karena investor beralih ke dolar AS yang menguat.
- Bagi investor Indonesia, pelemahan emas bisa menjadi peluang akumulasi, namun risiko kenaikan suku bunga global masih membayangi.

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel justru menjadi bumerang bagi harga emas. Alih-alih melonjak sebagai aset safe haven, logam mulia ini justru terperosok ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Dalam sebulan terakhir, harga emas telah kehilangan lebih dari 20% nilainya, dari rekor US$ 5.303 per troy ounce pada akhir Januari menjadi sekitar US$ 4.235 per troy ounce pada Jumat lalu.
Penyebab utama ambruknya harga emas bukanlah meredanya konflik, melainkan efek samping dari perang itu sendiri: inflasi yang meroket. Blokade Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu pasokan energi global, mendorong harga minyak dan komoditas lainnya naik. Di Amerika Serikat, inflasi mencapai 4,2%—level tertinggi dalam tiga tahun terakhir—sementara pasar tenaga kerja tetap ketat. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve memudar, bahkan muncul spekulasi kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Fenomena ini membalikkan logika tradisional bahwa emas adalah pelindung inflasi. Ketika suku bunga tinggi, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik dibandingkan aset berbunga seperti obligasi. "Emas kehilangan daya tariknya sebagai investasi jika suku bunga tinggi dan orang-orang akan terus menggunakan dolar," ujar Justin Cardwell, Kepala Analis Opsi OptionSpreaders.com, kepada Al Jazeera. Dolar AS yang menguat semakin menekan emas, karena harga emas yang dihitung dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Collin Plume, CEO Noble Gold Investments, menjelaskan bahwa penguatan dolar menjadi faktor langsung yang menekan emas. "Ketika dolar menguat, emas merasakan tekanan; ketika dolar melemah, emas cenderung naik. Saat ini, dolar AS kuat, dan emas merasakannya," katanya melalui email kepada Al Jazeera. Namun, Plume mengingatkan bahwa masa depan masih tidak pasti, tergantung pada eskalasi konflik dan respons kebijakan moneter.
Konteks Indonesia: Dampak bagi Investor dan Pasar Domestik
Bagi investor Indonesia, penurunan harga emas global membawa angin segar sekaligus risiko. Di satu sisi, harga emas batangan di dalam negeri yang acuannya mengikuti pasar global berpotensi turun, memberikan peluang bagi masyarakat yang ingin membeli emas sebagai investasi jangka panjang. Namun, di sisi lain, pelemahan rupiah terhadap dolar AS—yang ikut tertekan oleh penguatan dolar global—bisa membuat harga emas lokal tidak turun signifikan. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia untuk menahan tekanan inflasi dan nilai tukar bisa membuat instrumen investasi lain seperti deposito lebih menarik.
Analis menilai bahwa investor Indonesia perlu mencermati dua skenario ke depan: jika konflik mereda dan suku bunga AS mulai turun, emas berpotensi bangkit kembali. Namun, jika inflasi terus meninggi dan suku bunga tetap tinggi, tekanan pada emas bisa berlanjut. "Pertanyaan terbesar yang kita hadapi untuk sisa tahun ini dan mungkin beberapa tahun ke depan adalah apa yang akan terjadi selanjutnya," kata Plume. Bagi pasar Indonesia, volatilitas harga emas juga berdampak pada sektor perhiasan dan industri logam mulia, yang selama ini menjadi salah satu penopang ekspor non-migas.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada langkah Federal Reserve dalam rapat kebijakan mendatang. Jika The Fed memberi sinyal akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bukan tidak mungkin harga emas akan terus tertekan. Sebaliknya, jika ada tanda-tanda de-eskalasi konflik Iran-Israel yang mengurangi tekanan inflasi, emas bisa kembali ke jalur pemulihan. Investor Indonesia disarankan untuk tetap waspada dan tidak terjebak dalam kepanikan jangka pendek, mengingat emas tetaplah aset lindung nilai yang efektif dalam jangka panjang.



