Ipswich Town Bidik Kjetil Knutsen: Pelatih "Kamikaze" yang Lebih Unggul dari Gary O'Neil
Baca dalam 60 detik
- Ipswich Town mencari pengganti Kieran McKenna yang hengkang, dengan Gary O'Neil dan Kjetil Knutsen sebagai kandidat utama.
- Knutsen dinilai lebih unggul karena rekam jejak juara di Norwegia dan kemampuan mengalahkan tim besar Eropa, sementara O'Neil hanya bertahan di papan bawah.
- Keputusan Mark Ashton akan menentukan arah klub: memilih pelatih pragmatis atau inovator bermental juara.
Ipswich Town harus bergerak cepat mencari nahkoda baru setelah Kieran McKenna memutuskan mundur jelang pramusim, meninggalkan klub yang baru promosi ke Premier League. Dua nama mencuat: Gary O'Neil, mantan pelatih Bournemouth dan Wolves yang kini menangani Strasbourg, serta Kjetil Knutsen, arsitek sukses Bodo/Glimt yang dijuluki "kamikaze" oleh mantan kaptennya.
McKenna, yang membawa Ipswich promosi dua kali beruntun dari League One ke Premier League, memilih rehat demi keluarga. Prestasinya sulit ditandingi: 139 kemenangan dari 276 laga di tiga divisi berbeda. Namun, musim 2026/27 harus dijalani tanpa dirinya. Ketua klub Mark Ashton kini dihadapkan pada pilihan krusial: meneruskan tradisi memberi kesempatan pada manajer Inggris atau berani merekrut pelatih asing dengan reputasi Eropa.
O'Neil memang pernah menjaga Bournemouth dan Wolves tetap di Premier League, tetapi statistik menunjukkan sisi rapuhnya. Saat di Bournemouth, timnya menjadi yang terburuk dalam expected goals (xG), menandakan keberuntungan lebih berperan. Di Wolves, ia dipecat setelah 29 kekalahan dari 54 laga liga. Sebagai pelatih, ia belum pernah finis di atas peringkat kedelapan dalam semusim penuh dan nihil trofi.
Sebaliknya, Knutsen adalah pembuktian bahwa pelatih dari liga kecil bisa bersaing di level tertinggi. Sejak membawa Bodo/Glimt juara Eliteserien perdana pada 2020, ia telah mengoleksi empat gelar dalam enam musim. Gaya bermainnya yang agresif—disebut "kamikaze" oleh mantan kapten Ulrik Saltnes—mampu mendominasi liga domestik dan mengejutkan raksasa Eropa. Di Liga Champions, Bodo/Glimt mengalahkan Manchester City, Atletico Madrid, Inter Milan, dan Sporting CP. Total 44 kemenangan dari 87 laga Eropa, termasuk lolos ke babak 16 besar Liga Champions, semifinal Liga Europa, dan perempatfinal Liga Conference.
Kemampuan Knutsen beradaptasi melawan tim unggulan menjadi nilai jual utama. Ipswich, sebagai pendatang baru, akan sering berhadapan dengan klub-klub besar Premier League. Pengalaman Knutsen mengatur strategi underdog sangat relevan. Sebaliknya, O'Neil lebih dikenal sebagai "spesialis degradasi" yang mengandalkan permainan bertahan dan keberuntungan.
Ashton sebelumnya menyatakan bangga memberi kesempatan pertama pada manajer Inggris. Namun, ambisi jangka panjang mungkin memaksanya melirik Knutsen. Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib Ipswich di Premier League, tetapi juga menjadi sinyal apakah klub berani meninggalkan zona nyaman. Dengan Sunderland musim lalu finis ketujuh sebagai tim promosi, Ipswich punya contoh bahwa target lebih tinggi bukan sekadar bertahan.
Pertanyaan besarnya: apakah Ashton akan memilih jalan aman bersama O'Neil atau mengambil risiko dengan pelatih Norwegia yang terbukti mampu menciptakan kejutan? Jawabannya akan diketahui dalam beberapa pekan ke depan.



