Vinicius Jr Selamatkan Brasil dari Kekalahan Perdana, tapi Masalah Timnas Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- Gol spektakuler Vinicius Jr di menit akhir menyelamatkan Brasil dari kekalahan perdana di Piala Dunia setelah tertinggal lebih dulu oleh Maroko.
- Penampilan Brasil yang kacau dan minim kreativitas di lini tengah memunculkan keraguan serius terhadap kemampuan tim asuhan Carlo Ancelotti.
- Dengan jadwal berat melawan Haiti dan Skotlandia, Brasil harus segera memperbaiki performa jika ingin mengakhiri puasa gelar sejak 2002.

Gol tunggal Vinicius Jr yang memukau di babak kedua menyelamatkan Brasil dari kekalahan perdana di Piala Dunia 2026, namun performa tim secara keseluruhan menyisakan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Bermain di Stadion New Jersey New York, Brasil tertinggal 1-0 akibat gol Ismael Saibari sebelum bintang Real Madrid itu menyamakan kedudukan lewat tembakan keras yang tak mampu dihalau kiper Maroko, Bono.
Hasil imbang 1-1 ini merupakan kali pertama Brasil gagal memenangi laga pembuka Piala Dunia sejak 1934. Mantan kapten Inggris Alan Shearer menyebut penampilan Brasil "berantakan", sementara pakar sepak bola Amerika Selatan Tim Vickery menilai bahwa momen individu Vinicius Jr-lah yang menutupi kelemahan kolektif tim. "Idealnya tim yang membuat bintang bersinar, tapi di sini sang bintang justru menyelamatkan tim," ujar Vickery kepada BBC Sport.
Pelatih Carlo Ancelotti, yang untuk pertama kalinya menangani tim di Piala Dunia di usia 67 tahun, terpaksa meminta maaf setelah timnya tampil lesu di bawah terik New Jersey. "Saya minta maaf kami tidak bermain sebaik yang diharapkan," kata pelatih asal Italia itu dalam konferensi pers usai pertandingan. Ancelotti, pelatih asing pertama yang menukangi Brasil di Piala Dunia, dihadapkan pada kenyataan pahit: skuad yang kelebihan pemain sayap namun kekurangan gelandang kreatif.
Gelandang veteran Casemiro, 34 tahun, tampak kelelahan dan diganti saat turun minum. Bek Roger Ibanez juga tidak kembali ke lapangan di babak kedua. Mantan gelandang Uruguay dan Chelsea, Gus Poyet, mengaku terkejut dengan buruknya kualitas teknis Brasil. "Mereka gagal melakukan operan sederhana yang seharusnya bisa dilakukan pemain Brasil dengan baik. Mungkin lapangan juga berpengaruh, tapi ini sungguh mengecewakan," ujarnya.
Kekhawatiran akan masa depan Brasil di turnamen ini bukannya tanpa dasar. Tim yang pernah melahirkan legenda seperti Pele, Ronaldo, Ronaldinho, dan Zico itu kini kehilangan "gaya samba" yang menjadi ciri khasnya. Dalam 18 pertandingan kualifikasi, Brasil menelan enam kekalahan dan finis di peringkat kelima klasemen Amerika Selatanโposisi terendah dalam sejarah mereka. Meski lolos, performa inkonsisten ini membuat banyak pengamat meragukan kemampuan Brasil bersaing di babak gugur.
Namun, ada secercah harapan. Seperti Argentina yang kalah dari Arab Saudi di laga pembuka Piala Dunia 2022 lalu akhirnya menjadi juara, Brasil masih memiliki dua pertandingan grup melawan Haiti (19 Juni di Philadelphia) dan Skotlandia (24 Juni di Miami). Ancelotti menegaskan timnya akan terus berbenah. "Kami harus tampil lebih baik, lebih seimbang, dan lebih agresif. Saya tidak kecewa, tapi juga tidak puas. Kami harus menerima kritik," ujarnya.
Vinicius Jr, yang pada malam sebelum pertandingan mengatakan bahwa ini adalah "momen terpenting dalam hidup dan karier saya", kembali menjadi andalan. Namun, pakar sepak bola Brasil Marcus Alves mengingatkan bahwa empat tahun setelah kegagalan adu penalti melawan Kroasia di perempat final 2022, keraguan terhadap kemampuan Vinicius sebagai pemimpin tim masih ada. "Ekspektasinya adalah dia sudah menjadi figur utama Selecao, tapi kenyataannya belum," kata Alves.
Kegagalan di Piala Dunia kali ini, setelah 24 tahun tanpa gelar, akan memicu pertanyaan besar tentang arah masa depan tim sepak bola paling sukses dalam sejarah. Mampukah Ancelotti meramu strategi yang tepat, atau Brasil hanya akan bergantung pada momen magis Vinicius Jr? Dua laga ke depan akan menjadi ujian sesungguhnya.



