Kantin Sekolah Masuk Skema MBG, Mendikdasmen Buka Opsi Baru Penyaluran Makan Bergizi
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah mempertahankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan penyesuaian skema, termasuk pelibatan kantin sekolah sebagai penyedia makanan.
- Data penerima MBG kini terintegrasi dengan Dapodik, memungkinkan penyaluran lebih tepat sasaran berdasarkan kebutuhan riil siswa.
- Kasus keracunan tidak menghentikan program secara nasional; evaluasi difokuskan pada dapur bermasalah, bukan keseluruhan SPPG.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan, namun dengan sejumlah penyesuaian signifikan. Salah satu perubahan yang menonjol adalah kemungkinan pelibatan kantin sekolah sebagai penyedia makanan bergizi, menggantikan sebagian peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi.
Dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Kudus, Sabtu (13/6), Mu'ti mengungkapkan bahwa sekitar 43,4 juta dari total 53,5 juta siswa di Indonesia—atau 80,94 persen—telah menerima manfaat MBG. Data ini, menurutnya, kini terintegrasi penuh dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sehingga pemerintah memiliki basis data yang akurat untuk menentukan penerima berdasarkan nama, alamat, dan sekolah.
Meski program dilanjutkan, pemerintah akan melakukan pemetaan ulang sasaran. Sekolah yang dinilai tidak terlalu membutuhkan bantuan akan dikeluarkan dari daftar penerima, sementara sekolah dengan siswa lebih rentan akan diprioritaskan. Langkah ini diambil untuk memastikan anggaran tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan program lain.
Keputusan melibatkan kantin sekolah membuka peluang baru dalam rantai pasok MBG. Selama ini, penyediaan makanan sepenuhnya ditangani oleh SPPG yang dibentuk khusus. Dengan opsi baru ini, kantin sekolah yang memenuhi standar gizi dapat berperan, asalkan tetap berada di bawah koordinasi dan supervisi Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah ini dinilai dapat mempercepat distribusi dan mengurangi beban logistik SPPG, terutama di daerah terpencil.
Menanggapi sejumlah kasus keracunan yang sempat mencoreng program, Mu'ti menegaskan bahwa insiden tersebut tidak akan menghentikan MBG secara keseluruhan. "Kalau ada keracunan, yang dihentikan adalah dapur yang tidak benar untuk dievaluasi, sedangkan SPPG yang baik tetap dilanjutkan. Bahkan, dapur yang tidak memenuhi standar bisa dicabut izin operasionalnya," ujarnya. Pendekatan ini menunjukkan pemerintah lebih memilih perbaikan terukur daripada penghentian massal.
Dari sisi strategis, Mu'ti menilai MBG bukan sekadar program pemberian makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun generasi muda yang sehat dan kompetitif. "Generasi ini harus dibangun baik akademiknya maupun fisiknya. Fisik dibangun melalui MBG, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan siap bersaing di masa depan," katanya.
Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada efektivitas pengawasan dan kesiapan kantin sekolah dalam memenuhi standar gizi. Apakah pelibatan kantin justru akan memunculkan tantangan baru dalam hal higiene dan konsistensi kualitas? Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap titik distribusi, baik SPPG maupun kantin, memiliki sistem monitoring yang ketat agar target peningkatan gizi anak bangsa tidak terganggu oleh masalah operasional.



