NAFDAC Siaga: 90.000 Botol Ibuprofen Anak Ditarik di AS karena Cemaran Benda Asing
Baca dalam 60 detik
- Badan Pengawas Obat Nigeria (NAFDAC) mengumumkan penarikan 90.000 botol ibuprofen anak di Amerika Serikat setelah ditemukan partikel hitam dan massa seperti gel dalam suspensi oral.
- Produk buatan Strides Pharma India untuk Taro Pharmaceuticals ini ditarik sukarela oleh produsen menyusul laporan konsumen, dengan nomor lot 7261973A dan 7261974A serta kedaluwarsa Januari 2027.
- NAFDAC menginstruksikan jajarannya untuk mengawasi ketat peredaran produk serupa di Nigeria dan meminta tenaga kesehatan serta orang tua waspada terhadap potensi risiko.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Nigeria (NAFDAC) mengeluarkan peringatan dini menyusul penarikan massal hampir 90.000 botol suspensi ibuprofen untuk anak-anak di Amerika Serikat. Produk yang dipasarkan dengan merek Children’s Ibuprofen Oral Suspension (100 mg/5 mL) itu ditarik karena ditemukan kontaminasi benda asing berupa massa seperti gel dan partikel hitam di dalam cairan obat.
Penarikan tersebut diprakarsai oleh Strides Pharma Inc., perusahaan farmasi asal India yang memproduksi obat untuk Taro Pharmaceuticals di AS. Langkah ini diambil setelah konsumen melaporkan adanya material asing yang mencurigakan dalam beberapa botol obat. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) kemudian mengonfirmasi temuan itu dan memerintahkan penarikan secara sukarela.
Menurut NAFDAC, kontaminasi semacam ini tidak hanya menurunkan kualitas obat, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan anak-anak yang mengonsumsinya. Ibuprofen oral suspensi biasanya digunakan untuk meredakan nyeri akibat pilek, flu, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan sakit gigi pada anak. Jika partikel asing tertelan, risiko iritasi saluran cerna atau reaksi alergi tidak bisa diabaikan.
Meskipun produk tersebut hanya diedarkan di Amerika Serikat, NAFDAC mengambil langkah antisipatif untuk mencegah masuknya barang serupa ke pasar Nigeria. Seluruh direktur zona dan koordinator negara bagian telah diinstruksikan untuk meningkatkan pengawasan dan menyita produk yang mencurigakan. Langkah ini menunjukkan keseriusan regulator dalam melindungi masyarakat dari obat-obatan substandar.
NAFDAC juga mengimbau para importir, distributor, pengecer, tenaga kesehatan, dan orang tua untuk tidak mengimpor, menjual, mendistribusikan, atau menggunakan produk dari lot yang ditarik. Fasilitas kesehatan diminta segera memeriksa stok mereka dan mengisolasi batch yang terindikasi bermasalah. Bagi orang tua yang sudah membeli produk tersebut, disarankan untuk menghentikan pemakaian dan segera berkonsultasi ke dokter jika anak menunjukkan reaksi yang tidak biasa.
“Jika ditemukan reaksi abnormal pada anak yang telah mengonsumsi obat ini, segera cari pertolongan medis,” demikian pernyataan resmi NAFDAC. Masyarakat juga didorong untuk melaporkan efek samping obat melalui platform pelaporan yang disediakan atau ke kantor NAFDAC terdekat.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya rantai pasok obat global yang ketat. Nigeria, seperti banyak negara berkembang, sangat bergantung pada impor obat jadi dan bahan baku farmasi. Insiden kontaminasi di negara produsen bisa berdampak luas jika tidak diantisipasi sejak dini. Ke depan, NAFDAC perlu memperkuat pengujian acak di pintu masuk dan mempercepat sistem pelacakan produk untuk meminimalkan risiko serupa.



