Megan Rapinoe Buka Suara soal Kepergian Sang Kakak Akibat Alkoholisme
Baca dalam 60 detik
- Megan Rapinoe untuk pertama kalinya secara publik mengungkapkan kakak laki-lakinya, Michael, meninggal tahun lalu setelah kecanduan alkohol.
- Dalam podcast pribadinya, ia mengaku melihat kecenderungan adiktif yang sama dalam dirinya dan mendorong pentingnya jeda karier.
- Kisah ini menyoroti beban keluarga terhadap kecanduan, mengingatkan pada perjuangan kakaknya yang lain, Brian, dengan narkoba dan hukum.

Megan Rapinoe, bintang sepak bola wanita Amerika Serikat yang pensiun pada 2023, untuk pertama kalinya secara terbuka menceritakan duka mendalam setelah kakak laki-lakinya, Michael, meninggal dunia tahun lalu akibat kecanduan alkohol yang berkepanjangan.
Dalam episode terbaru podcast A Touch More: The Beautiful Game, perempuan berusia 40 tahun itu berbincang dengan legenda sepak bola Abby Wambach. Ia mengungkapkan bahwa kepergian Michael—satu dari lima saudaranya—membuatnya merenungkan banyak hal, termasuk kemiripan sifat antara dirinya dan sang kakak. “Saya melihat obsesi, kompulsi, dan kecanduan itu ada pada saya dan dia,” ujar Megan, seraya menambahkan bahwa pengalaman itu menyadarkannya betapa jarangnya ia pulang ke rumah tanpa alasan tertentu seperti liburan atau pernikahan.
Momen berkabung itu juga membuka kembali luka lama keluarga Rapinoe terkait kecanduan. Sebelumnya, Megan pernah menceritakan perjuangan kakaknya yang lain, Brian, yang terjerat narkoba dan hukum sejak usia 15 tahun. Brian ditangkap karena kepemilikan metamfetamin dan menghabiskan bertahun-tahun keluar-masuk penjara sebelum akhirnya fokus pada pemulihan. Dalam wawancara bersama ESPN pada 2019, Brian mengaku tengah menjalani program reintegrasi 12 bulan untuk menyelesaikan masa hukumannya.
Pada November 2020, Megan menyatakan kepada majalah People bahwa ia tidak lagi menyalahkan diri sendiri atas masalah Brian, tetapi pengalaman itu memberinya empati besar terhadap mereka yang terjebak dalam krisis opioid. “Untuk alasan apa pun, narkoba mencengkeram Brian. Dia tidak butuh penjara federal; dia butuh rehabilitasi,” tegas Megan. Dalam memoarnya One Life, ia menulis: “Inilah kebenaran tentang memiliki pecandu narkoba dalam keluarga: perasaan hancur itu tak pernah hilang.”
Kisah Megan Rapinoe menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap prestasi olahraga, para atlet pun bergulat dengan persoalan personal yang pelik. Di Indonesia, isu kecanduan alkohol dan narkoba juga menjadi tantangan serius, terutama di kalangan generasi muda. Minimnya akses rehabilitasi yang memadai dan stigma sosial kerap menghambat pemulihan. Kasus ini bisa menjadi cermin bagi publik Indonesia untuk lebih peduli terhadap pendampingan keluarga yang memiliki anggota dengan masalah adiktif.
Ke depan, publik akan menanti apakah Megan akan menggunakan platformnya untuk mendorong perubahan kebijakan terkait kecanduan, sebagaimana ia vokal dalam isu kesetaraan gender dan hak LGBTQ+. Satu hal yang pasti: duka karena kehilangan saudara akibat kecanduan adalah luka yang tak kunjung sembuh, dan keberanian Megan untuk membagikannya bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi stigma.



