Craig Brown dan Kenangan Pahit Skotlandia di Piala Dunia 1998
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia memulai Piala Dunia 1998 dengan melawan Brasil, juara bertahan, di Paris.
- Manajer Craig Brown menggunakan berbagai taktik unik, termasuk memanggil Rod Stewart dan Sean Connery, untuk memotivasi tim.
- Skotlandia tersingkir di fase grup setelah kalah dari Maroko, meski tampil dominan secara statistik.

Pada 10 Juni 1998, Skotlandia mengawali petualangan Piala Dunia mereka dengan menghadapi Brasil, sang juara bertahan, di Stade de France, Paris. Bagi manajer Craig Brown, yang meninggal pada 2023 di usia 82 tahun, turnamen ini adalah puncak dari persiapan panjang yang penuh likuโmulai dari insiden kiper Andy Goram yang hengkang, latihan bersama Rod Stewart, hingga telepon dari Sean Connery.
Brown, yang dikenal sebagai motivator ulung, sempat melontarkan kalimat legendaris di ruang ganti sebelum laga melawan Brasil. Melihat pemain Brasil berjalan bergandengan tangan, ia berteriak, "Mereka ketakutan!" Namun, taktik itu tak cukup membendung kekuatan Brasil. Meski sempat menyamakan kedudukan lewat penalti John Collins, Skotlandia harus mengakui keunggulan Brasil setelah gol bunuh diri Tom Boyd pada menit ke-74.
Kekalahan tipis itu justru memberi kepercayaan diri bagi skuad Brown. Pada laga kedua melawan Norwegia, Skotlandia mendominasi namun hanya mampu bermain imbang 1-1 berkat gol Craig Burley. Hasil itu memaksa mereka harus mengalahkan Maroko di laga pamungkas untuk lolos. Namun, petaka datang: tiga gol Maroko dan kartu merah Burley mengubur mimpi Skotlandia. Brown mengakui, "Statistik kami unggul, tapi gol yang menentukan."
Kisah Brown tidak hanya tentang sepak bola. Ia adalah manajer yang perfeksionis, bahkan mengatur berat selimut dan panjang tempat tidur pemain di hotel. Ia juga membangun gym dari nol karena fasilitas tak memadai. Di luar lapangan, ia harus menghadapi kritik media yang menyoroti kemewahan hotel timโ"Kami memberi mereka ini, dan mereka memberi kami ini," tulis salah satu tabloid dengan foto tiga gol Maroko.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Skotlandia 1998 mengingatkan pada perjuangan tim-tim underdog di Piala Dunia. Seperti Indonesia yang bermimpi tampil di putaran final, Skotlandia membuktikan bahwa persiapan matang dan semangat juang bisa menyaingi raksasa dunia, meski hasil akhir tak selalu berpihak. Pelajaran dari Brown: detail kecil bisa membuat perbedaan besar, tapi sepak bola tetaplah permainan yang kejam.
Kini, 26 tahun kemudian, Skotlandia masih menanti gol pertama mereka di Piala Dunia putra sejak Burley menjebol gawang Norwegia. Mampukah mereka memutus kutukan itu di masa depan? Atau akankah kenangan pahit 1998 terus menghantui?



