Kembali ke Tempat Lahir Karier: Cam Devlin Siap Bawa Australia ke Babak Baru di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Australia Cam Devlin akan memulai Piala Dunia 2026 di Kanada, negara yang memperkenalkannya pada sepak bola saat berusia sembilan tahun.
- Devlin meyakini skuad Socceroos memiliki potensi tanpa batas dan siap melampaui capaian babak 16 besar yang pernah diraih sebelumnya.
- Kisah Devlin menjadi pengingat bagaimana diaspora dan pengalaman lintas negara dapat membentuk karier pesepak bola profesional.
Gelandang Australia Cam Devlin akan merasakan momen istimewa saat berlaga di Piala Dunia 2026: ia kembali ke Kanada, negara yang dua dekade lalu menyalakan api cintanya pada sepak bola. Bagi Devlin, laga pembuka melawan Türkiye di Vancouver bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan perjalanan pulang yang penuh makna.
Devlin pindah ke Toronto bersama keluarganya saat berusia sembilan tahun. Di Kanada, ia untuk pertama kali bermain sepak bola secara terorganisir, setelah sebelumnya hanya mengenal rugby league—olahraga yang digeluti ayahnya. “Sejujurnya, itu adalah kenangan masa kecil terbaik. Saya tidak tahu apakah saya akan bermain sepak bola jika tidak pergi ke Kanada,” ujarnya dalam wawancara dengan FIFA. Pengalaman singkat itu menjadi fondasi yang membawanya hingga ke panggung terbesar sepak bola dunia.
Setelah kembali ke Australia, Devlin terus menekuni sepak bola, bergabung dengan tim perwakilan, dan akhirnya memulai karier profesional bersama Sydney FC. Pada 2021, ia pindah ke Hearts di Skotlandia, di mana ia tumbuh menjadi gelandang serbabisa yang nyaris membawa klub Edinburgh itu merebut gelar liga dari Celtic musim lalu. Kekalahan di hari terakhir kompetisi memang menyakitkan, tetapi Devlin memilih melihat sisi positif: “Bagi klub seperti Hearts bisa berada di posisi itu sungguh luar biasa. Kami memberi banyak kegembiraan bagi kota dan para penggemar.”
Kegagalan itu langsung terbayar dengan panggilan membela tim nasional di Piala Dunia. “Tidak ada wortel yang lebih besar dari Piala Dunia,” kata Devlin, yang berulang tahun ke-28 sepekan sebelum laga perdana. Ia mengaku bersyukur bisa segera beralih fokus dari kekecewaan liga ke turnamen global.
Australia sendiri telah lolos ke Piala Dunia ketujuh kalinya secara beruntun, namun ambisi mereka belum pernah melampaui babak 16 besar. Devlin yakin skuad kali ini mampu menembus batas tersebut. “Kami memiliki banyak talenta, staf dan pelatih yang hebat. Jika ada yang meremehkan kami, itu bagus—kami bisa fokus pada diri sendiri,” tegasnya. Ia menambahkan, “Kami tidak ingin membatasi apa yang bisa dicapai. Persiapan sudah maksimal, dan kami ingin melaju sejauh mungkin.”
Di luar lapangan, Devlin menyimpan kenangan unik dari Piala Dunia 2022: kaus Lionel Messi yang ia dapatkan dengan cara sederhana—memintanya langsung. “Saya selalu mencoba mendapatkan kaus sebagai kenang-kenangan. Saya beruntung dia ada di sana pada waktu yang tepat,” cerita Devlin. Kaus tersebut kini disimpan oleh keluarganya di tempat rahasia, “agar tidak dicuri.”
Kisah Devlin menjadi cermin bagaimana pengalaman lintas negara dapat membentuk perjalanan seorang atlet. Bagi Indonesia, yang memiliki diaspora besar dan pemain yang merantau ke berbagai liga, perjalanan Devlin bisa menjadi inspirasi: bahwa titik awal karier tidak selalu berada di tanah kelahiran, dan bahwa sepak bola mampu menjembatani jarak geografis serta budaya.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Australia, dengan semangat Devlin dan koleganya, menulis ulang sejarah di Piala Dunia 2026? Atau justru Kanada akan menjadi saksi lahirnya babak baru bagi sepak bola Australia?

