David Hockney Tutup Usia di 88, Sang Maestro Warna dan Perspektif Berpulang
Baca dalam 60 detik
- Pelukis dan seniman kontemporer asal Inggris, David Hockney, meninggal dunia pada 11 Juni 2026 di kediamannya, sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-89.
- Sepanjang kariernya, Hockney dikenal sebagai inovator yang tak kenal lelah, dari lukisan kolam renang ikonik hingga eksperimen fotokola dan seni digital di iPad.
- Kepergiannya meninggalkan jejak panjang dalam dunia seni rupa, dengan pameran retrospektif di Paris dan rencana pameran di Tate Modern pada 2027.

David Hockney, salah satu seniman paling berpengaruh abad ke-20 dan ke-21, meninggal dunia pada usia 88 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh pihak keluarga melalui pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa Hockney berpulang secara damai di rumahnya pada 11 Juni 2026, hanya sebulan sebelum genap berusia 89 tahun.
Lahir di Bradford, Yorkshire Barat, pada 1937, Hockney menunjukkan bakat seni sejak dini. Ia berhasil diterima di Royal College of Art London, namun sempat gagal lulus karena menolak menulis esai yang disyaratkan. Protes publik memaksa kampus memberikan kelulusan dan medali emas bergengsi. Pada 1964, ia hijrah ke Los Angeles, meninggalkan cat minyak demi akrilik cerah yang menjadi ciri khasnya. Lukisan kolam renangnya, seperti Portrait of an Artist (Pool with Two Figures), terjual hampir Β£70 juta pada 2018, menjadikannya salah satu seniman termahal di dunia.
Hockney juga dikenal sebagai pionir fotokola, yang ia sebut 'joiners', dengan merangkai banyak foto Polaroid untuk mengeksplorasi perspektif. Di usia senja, ia terus bereksperimen dengan teknologi, dari mesin fotokopi hingga iPad, menciptakan karya digital yang memukau. "Saya hanya tertarik pada teknologi yang berhubungan dengan gambar," ujarnya dalam wawancara dengan Interview pada 2013.
Meski sukses, hidup Hockney tak lepas dari tragedi. Pada 2013, asistennya, Dominic Elliott, meninggal setelah mengonsumsi pembersih saluran air dan narkoba. Peristiwa itu membuat Hockney nyaris berhenti melukis. Ia juga dikenal kontroversial karena menolak gelar ksatria berkali-kali dan undangan melukis potret Ratu Elizabeth II. Namun, ia menerima Order of Merit, menganggapnya sebagai hadiah pribadi dari sang ratu.
Bagi publik Indonesia, Hockney mungkin tak setenar seniman pop seperti Andy Warhol, namun pengaruhnya dalam seni rupa kontemporer global tak terbantahkan. Pameran retrospektifnya di Paris tahun lalu menarik ribuan pengunjung, dan Tate Modern London telah merencanakan pameran besar pada 2027 untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-90. Kini, rencana itu akan menjadi penghormatan terakhir bagi sang maestro.
Dengan kepergian Hockney, dunia kehilangan seorang seniman yang tak pernah berhenti mempertanyakan cara kita melihat. Pertanyaan yang tersisa: siapa lagi yang akan berani menolak pakem dan terus berinovasi seperti dirinya?



