DON'T NOD di Ambang Kebangkrutan: Kasus Hampir Habis November, Tencent Ogah Turun Tangan
Baca dalam 60 detik
- Auditor independen memperingatkan bahwa DON'T NOD, pengembang Life is Strange, bisa kehabisan uang tunai pada November 2025 jika tidak segera mendapat suntikan dana.
- Tencent, pemegang saham utama dengan 42%, menolak menambah modal atau mendanai proyek baru, memperparah tekanan finansial studio tersebut.
- Krisis ini menimbulkan kekhawatiran akan gelombang PHK dan penutupan studio game global, termasuk dampak tidak langsung pada industri game Indonesia yang bergantung pada kolaborasi internasional.

Krisis finansial yang melanda pengembang gim asal Prancis, DON'T NOD, semakin memuncak. Laporan auditor yang dirilis bulan ini mengungkapkan bahwa perusahaan yang berkantor di Paris dan Montreal itu diperkirakan akan kehabisan seluruh cadangan kasnya pada November mendatang. Situasi ini menempatkan DON'T NOD di ambang kebangkrutan, mengancam kelangsungan studio yang dikenal lewat seri Life is Strange dan Banishers: Ghosts of New Eden tersebut.
Menurut laporan keuangan yang diaudit, arus kas DON'T NOD terus menyusut seiring pendapatan yang tak kunjung membaik. Rilis terbaru mereka, Aphelion, belum mampu membendung kerugian. Padahal, studio ini sempat menuai sukses dengan Life is Strange yang fenomenal. Kini, beban operasional dan investasi pengembangan gim baru menjadi bumerang.
Yang memperparah keadaan adalah sikap Tencent, raksasa teknologi asal China yang menggenggam 42% saham DON'T NOD. Alih-alih memberikan suntikan dana segar, Tencent justru menolak menambah modal atau mendanai proyek baru. Keputusan ini menandakan hilangnya kepercayaan investor terhadap prospek studio tersebut. Tanpa dukungan pemegang saham utama, opsi DON'T NOD untuk bertahan semakin sempit.
Konteks industri gim global menunjukkan tren serupa. Banyak studio independen dan menengah kesulitan bertahan di tengah biaya produksi yang melonjak dan perubahan preferensi pemain. DON'T NOD bukanlah yang pertama; sebelumnya, studio seperti Volition dan Telltale Games tumbang. Jika DON'T NOD benar-benar kolaps, akan terjadi gelombang PHK yang memperburuk situasi tenaga kerja kreatif di sektor gim.
Bagi Indonesia, krisis ini menjadi pengingat akan kerentanan rantai pasok industri gim nasional. Banyak pengembang lokal bekerja sama dengan studio asing sebagai mitra pengembangan atau penerbit. Kejatuhan DON'T NOD bisa memutus kontrak kerja sama, menghambat proyek bersama, dan mengurangi peluang ekspor jasa pengembangan gim Indonesia. Pelaku industri dalam negeri perlu mulai mendiversifikasi mitra dan memperkuat pendanaan mandiri.
DON'T NOD kini berada dalam perlombaan melawan waktu. Manajemen harus mencari investor baru atau melakukan restrukturisasi drastis sebelum November. Apakah akan ada pihak yang menyelamatkan studio ini, atau justru menjadi babak akhir bagi salah satu pengembang gim naratif terkemuka? Jawabannya akan menentukan arah industri gim independen global ke depan.



