Bocah 18 Tahun dari Mesir Siap Guncang Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Hamza Abdelkarim, penyerang Barcelona U-19 asal Mesir, menjadi salah satu pemain termuda di Piala Dunia 2026 dan diproyeksikan sebagai bintang masa depan.
- Penampilannya di level klub meyakinkan Barcelona untuk mempermanenkan statusnya dari Al Ahly, sementara di timnas ia debut di laga uji coba melawan Brasil.
- Kehadirannya di skuad Mesir menambah dimensi baru lini serang, dengan kemampuan duel udara dan fisik yang menjadi senjata utama.
Hamza Abdelkarim, remaja 18 tahun asal Mesir yang kini membela Barcelona U-19, dipastikan menjadi salah satu pemain termuda yang akan tampil di Piala Dunia 2026. Penampilannya yang impresif di level klub dan internasional membuatnya dijagokan sebagai kuda hitam yang bisa membawa kejutan bagi Timnas Mesir di ajang empat tahunan tersebut.
Abdelkarim memulai karier profesionalnya di Al Ahly, klub raksasa Mesir, sebelum dipinjamkan ke Barcelona pada Februari lalu. Dalam waktu singkat, ia langsung menjadi andalan di tim U-19 Barcelona, mencetak lima gol dalam tujuh pertandingan dan membantu tim merebut gelar liga. Barcelona pun berencana mempermanenkan statusnya setelah masa pinjaman berakhir akhir bulan ini.
Di level internasional, Abdelkarim sudah menunjukkan taringnya saat membela Mesir di Piala Dunia U-17 2024 di Qatar. Gol-golnya membawa Tim Muda Firaun lolos hingga babak 32 besar. Kini, hanya tujuh bulan berselang, ia sudah masuk dalam skuad utama Mesir untuk Piala Dunia 2026 setelah pelatih Hossam Hassan memanggilnya dalam 26 pemain yang akan berlaga di Amerika Utara.
Penampilan perdana Abdelkarim di Barcelona U-19 langsung mencuri perhatian. Dalam debutnya melawan Huesca pada Maret lalu, ia mencetak gol sundulan yang membuat kiper lawan, Jordi Saucedo, harus memungut bola dari gawangnya. Saucedo mengakui bahwa timnya sudah mempersiapkan diri secara khusus untuk menghadapi Abdelkarim, tetapi tetap kewalahan. "Dia membawa dimensi berbeda untuk Barcelona, ancaman di udara dan kemampuan menahan bola yang luar biasa. Dia tipikal striker klasik yang kuat secara fisik," ujar Saucedo.
Puncak performa Abdelkarim terjadi pada laga pamungkas musim lalu, ketika ia mencetak hat-trick sundulan hanya dalam 15 menit babak pertama, membantu Barcelona U-19 menang 9-0 atas Montecarlo dan memastikan gelar juara. Pelatih Montecarlo, Nestor Paricio, mengakui bahwa timnya sudah memperingatkan pemain tentang ancaman Abdelkarim, tetapi tetap tidak bisa menghentikannya. "Dia tidak bisa dipegang. Setiap bola yang masuk ke kotak penalti, dia selalu ada di sana," kata Paricio.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Abdelkarim bisa menjadi inspirasi bahwa pemain muda dari kawasan Afrika dan Timur Tengah mampu bersaing di panggung global. Mesir sendiri belum pernah memenangkan pertandingan di Piala Dunia, dan kehadiran Abdelkarim diharapkan bisa memutus tren tersebut. Dengan fisik menjulang dan naluri gol tajam, ia menjadi opsi menarik di lini depan Mesir yang selama ini bergantung pada Mohamed Salah dan Omar Marmoush.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, sudah menyatakan minatnya untuk melihat langsung kemampuan Abdelkarim dalam pramusim. Namun, fokus utama sang pemain saat ini adalah Piala Dunia 2026. Pertanyaannya, akankah remaja Mesir ini mampu mengulangi performa gemilangnya di level klub dan membawa negaranya meraih kemenangan pertama di turnamen akbar? Semua mata akan tertuju padanya.

