Dua Yokozuna Onosato dan Hoshoryu Sapa Paris: Pameran Sumo di Prancis Siap Digelar
Baca dalam 60 detik
- Pegulat sumo papan atas Onosato dan Hoshoryu mengunjungi Paris untuk pameran dua hari akhir pekan ini, menandai kembalinya mereka setelah cedera.
- Kunjungan ini menjadi ajang promosi budaya Jepang di Eropa, sekaligus uji ketangguhan fisik kedua yokozuna yang sempat absen di turnamen resmi.
- Kehadiran mereka di Paris diharapkan memperkuat popularitas sumo di luar Jepang, termasuk menarik minat penggemar Indonesia yang mengikuti olahraga tradisional ini.

Dua pendekar sumo berstatus yokozuna, Onosato dan Hoshoryu, menyapa ibu kota Prancis pada Kamis (12/6) dalam rangka pameran eksibisi akhir pekan ini. Keduanya tampil di depan Menara Eiffel dengan balutan jubah tradisional, menarik perhatian wisatawan yang memadati kawasan Trocadero.
Bagi Onosato, momen ini terasa istimewa karena ia baru pulih dari cedera bahu kiri yang memaksanya absen dalam dua turnamen besar beruntun. "Akhirnya terasa nyata bahwa saya tiba di Prancis. Saya akan menikmati dan berusaha maksimal dalam sumo," ujarnya dengan senyum lebar. Sementara itu, Hoshoryu yang juga mundur dari Turnamen Musim Panas pada Mei lalu, mengaku butuh istirahat untuk mempersiapkan diri bertanding.
Pameran yang berlangsung hingga Minggu (15/6) ini merupakan edisi ketiga yang digelar Asosiasi Sumo Jepang di Paris, setelah sebelumnya sukses pada 1986 dan 1995. Kehadiran dua yokozuna sekaligus menjadi daya tarik utama, mengingat status mereka sebagai pegulat level tertinggi dalam hierarki sumo.
Bagi Indonesia, meskipun sumo bukan olahraga arus utama, popularitasnya terus tumbuh berkat siaran langsung turnamen dan liputan media. Momen seperti ini bisa menjadi pintu masuk bagi penggemar lokal untuk lebih mengenal budaya Jepang. Apalagi, Indonesia memiliki komunitas pecinta sumo yang cukup aktif, terutama di kota-kota besar.
Menurut pengamat olahraga tradisional, kehadiran yokozuna di luar Jepang tidak hanya mempromosikan sumo, tetapi juga memperkuat diplomasi budaya. "Eksibisi seperti ini menunjukkan bahwa sumo bisa dinikmati lintas budaya. Untuk Indonesia, ini bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda untuk menekuni olahraga tradisional," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Onosato dan Hoshoryu sendiri tampak antusias berinteraksi dengan publik Prancis. Mereka dengan senang hati berfoto bersama penggemar, bahkan Hoshoryu sempat mencicipi baguette yang diberikan wartawan. "Saya ingin mengistirahatkan tubuh dan bersiap sepenuhnya untuk bertanding," katanya sambil tersenyum.
Pertanyaan selanjutnya, mampukah kedua yokozuna tampil prima setelah cedera? Atau justru eksibisi ini menjadi batu loncatan untuk kembali ke puncak performa? Publik sumo dunia, termasuk Indonesia, patut menantikan aksi mereka di atas dohyo Paris.



