Kanada Siap Pikul Beban Piala Dunia di Kandang, Marsch Tak Gentar
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Jesse Marsch menegaskan timnya justru menginginkan tekanan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.
- Kapten Alphonso Davies masih cedera, namun perkembangan MRI terbaru memberi harapan untuk tampil di laga selanjutnya.
- Kanada, yang belum pernah meraih poin di Piala Dunia, akan menghadapi Bosnia dalam laga pembuka Grup B.
Jesse Marsch, pelatih tim nasional Kanada, menolak anggapan bahwa anak asuhnya gentar menghadapi tekanan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Justru, ia menegaskan bahwa seluruh skuad menginginkan tanggung jawab besar itu. Dalam pernyataan menjelang laga pembuka Grup B melawan Bosnia dan Herzegovina di Toronto Stadium, Jumat (11/6), Marsch mengatakan bahwa menjadi tuan rumah adalah puncak karier yang ia dan timnya idamkan.
โJika Anda menjalani profesi ini, inilah tempat yang Anda inginkan,โ ujar Marsch, Kamis (10/6). Ia menambahkan bahwa keputusannya melatih Kanada sejak 2024 bukan sekadar karena kecocokan gaya bermain, melainkan untuk memimpin tim di Piala Dunia kandang. โSaya menginginkan tanggung jawab ini,โ tegasnya.
Namun, persiapan Kanada tidak berjalan mulus. Kapten tim, Alphonso Davies, dipastikan absen pada laga perdana akibat cedera hamstring yang diderita saat semifinal Liga Champions bersama Bayern Munich. Meski demikian, Marsch mengungkapkan bahwa hasil MRI pada Rabu (9/6) menunjukkan perkembangan positif. โKami akan meningkatkan intensitas latihannya. Ia memang belum bisa bermain besok, tapi kemampuan pemulihannya luar biasa. Kami optimistis ia bisa berkontribusi dalam beberapa pekan ke depan,โ kata Marsch.
Selain Davies, ada kekhawatiran lain yang sempat muncul. Gelandang Ismael Kone meninggalkan latihan lebih awal pada Rabu karena merasa sakit, namun Marsch dengan cepat meredakan spekulasi. โIa hanya sedikit tidak enak badan, kami suruh pulang karena hari itu tidak ada latihan berat. Kini ia sudah fit dan siap bermain,โ jelasnya. Bek Moise Bombito juga dalam pemulihan patah kaki, dan Marsch memperkirakan ia bisa menjadi starter dalam sepekan.
Masalah disiplin menjadi perhatian serius. Kanada telah mengoleksi beberapa kartu merah dalam 11 pertandingan terakhir. Marsch mengingatkan bahwa euforia laga kandang tidak boleh memicu tindakan ceroboh. โCara tercepat untuk menggagalkan turnamen adalah kartu merah. Kami harus agresif, tapi tetap tenang dan hindari tekel sembrono atau reaksi emosional,โ ujarnya.
Bagi Indonesia, perjalanan Kanada ini bisa menjadi pelajaran berharga. Sebagai negara yang juga bermimpi tampil di Piala Dunia, tekanan menjadi tuan rumah dan manajemen cedera pemain bintang adalah tantangan nyata. Keberanian Marsch mengambil risiko dengan skuad muda dan gaya bermain agresif patut dicermati, terutama dalam membangun mental juara.
Marsch menutup dengan keyakinan penuh. โKami siap memainkan pertandingan besar. Kami siap membuat negara dan penggemar bangga. Kami akan berjuang,โ pungkasnya. Akankah Kanada akhirnya meraih poin perdana di Piala Dunia, atau justru kembali pulang dengan tangan hampa?



