Italia Gagal Lagi: Absen di Piala Dunia 2026 untuk Ketiga Kalinya Berturut-turut
Baca dalam 60 detik
- Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia setelah kalah adu penalti dari Bosnia di final play-off zona Eropa.
- Kekalahan dari Norwegia di fase grup menjadi awal kehancuran, membuat Azzurri harus puas di posisi kedua.
- Krisis kepemimpinan FIGC dan belum adanya pelatih baru menambah ketidakpastian masa depan sepak bola Italia.

Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Italia dipastikan absen dari Piala Dunia. Meski turnamen 2026 diperluas menjadi 48 peserta, tim berjuluk Azzurri itu gagal merebut satu dari 16 tiket yang disediakan untuk zona Eropa. Kekalahan dramatis dari Bosnia-Herzegovina di babak play-off menjadi pukulan telak bagi negara yang pernah empat kali juara dunia.
Dalam kualifikasi Grup I, Italia sebenarnya tampil cukup baik dengan enam kemenangan dari delapan laga. Namun, dua kekalahan krusial dari Norwegia—masing-masing di kandang dan tandang—menjadi batu sandungan. Norwegia yang diperkuat Erling Haaland finis sempurna dengan 100 persen kemenangan, sementara Italia harus puas di posisi kedua dan melangkah ke play-off.
Di semifinal play-off, Italia sukses menyingkirkan Irlandia Utara dengan skor 2-0 berkat gol Sandro Tonali dan Moise Kean. Namun, di partai final melawan Bosnia, nasib berkata lain. Unggul lebih dulu melalui gol Kean pada menit ke-15, Italia harus bermain dengan 10 orang setelah Alessandro Bastoni mendapat kartu merah langsung menjelang turun minum. Bosnia menyamakan kedudukan di menit ke-79 melalui Haris Tabakovic, dan pertandingan berlanjut ke adu penalti. Dalam drama tos-tosan, dua eksekutor Italia—Pio Esposito dan Bryan Cristante—gagal, sementara Bosnia sempurna dalam empat tendangan pertama. Skor akhir 4-1 untuk Bosnia, yang lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah mereka.
Kegagalan ini memicu pergantian besar di tubuh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Pelatih Gennaro Gattuso dan kepala delegasi Gianluigi Buffon langsung dipecat setelah kekalahan dari Bosnia. Presiden FIGC Gabriele Gravina juga mengundurkan diri. Sampai saat ini, belum ada pengganti tetap untuk posisi-posisi tersebut. Pemilihan presiden FIGC baru dijadwalkan pada 22 Juni, dengan dua kandidat utama: Giovanni Malago dan Giancarlo Abete. Pelatih kepala tim nasional baru baru akan ditunjuk setelah kepemimpinan federasi jelas.
Bagi Indonesia, kegagalan Italia ini menjadi pengingat betapa ketatnya persaingan di kancah sepak bola global. Meski Italia memiliki sejarah gemilang, inkonsistensi dan kegagalan di momen krusial bisa menimpa siapa pun. Pelajaran bagi pengembangan sepak bola nasional adalah pentingnya pembinaan jangka panjang dan manajemen krisis yang solid. Tanpa perencanaan matang, prestasi besar sekalipun bisa runtuh dalam sekejap.
Ke depan, Italia harus memulai dari awal: membangun kembali kepercayaan diri, memperbaiki sistem kompetisi domestik, dan menemukan figur pelatih yang mampu membangkitkan kembali kejayaan. Pertanyaan besarnya, mampukah Italia bangkit dari keterpurukan ini, atau justru akan semakin tenggelam dalam pusaran krisis yang berkepanjangan?