Belfast Terbakar: Penusukan Picu Kerusuhan Anti-Imigran, Polisi Gunakan Meriam Air
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria Sudan dituduh menusuk warga Belfast hingga buta, memicu gelombang kekerasan anti-imigran yang berlangsung dua malam berturut-turut.
- Polisi Irlandia Utara mengerahkan 200 personel tambahan dan meriam air setelah massa membakar rumah, bus, dan menyerang petugas dengan batu.
- Insiden ini membuka kembali perdebatan soal perbatasan terbuka dengan Republik Irlandia, mengingatkan pada masa The Troubles.

Polisi Irlandia Utara melepaskan tembakan meriam air ke arah pengunjuk rasa di Belfast pada Rabu malam (11/6) setelah massa membakar properti dan melemparkan batu, bata, serta botol ke arah aparat. Kekerasan yang berlangsung untuk kedua kalinya ini dipicu oleh penusukan brutal terhadap seorang pria setempat yang diduga dilakukan oleh imigran asal Sudan.
Hadi Alodid, 30 tahun, muncul di Pengadilan Magistrat Belfast melalui video dan langsung ditahan tanpa jaminan. Ia didakwa melakukan percobaan pembunuhan setelah diduga menusuk Stephen Ogilvie hingga mengalami kebutaan permanen di mata kiri. Menurut keterangan detektif, saat polisi tiba di lokasi, Alodid masih berada di atas korban dengan pisau dapur di tangan. Di rumah sakit, ia sempat mengancam akan membunuh seorang radiografer dan mengatakan, "Saya telah membunuh seseorang, saya tidak tahu apakah mereka mati." Alodid menolak didampingi pengacara dan tidak mengajukan pembelaan.
Kekerasan di jalanan dimulai Selasa malam ketika sekelompok pria bertopeng membakar beberapa rumah yang diduga dihuni imigran, membakar tong sampah, dan membakar sebuah bus umum. Petugas pemadam kebakaran menyelamatkan beberapa penghuni, namun lebih dari dua lusin orang kehilangan tempat tinggal. Anselme Shima, warga asal Kongo yang tinggal di Belfast, mengaku ketakutan. "Saya tinggal di sini hampir 10 tahun, punya hubungan baik dengan tetangga, tapi tadi malam mengerikan. Saya bertanya-tanya apakah saya berikutnya," ujarnya.
Kepala Kepolisian Irlandia Utara, Jon Boutcher, mengecam keras aksi tersebut. "Ini bukan hanya keluarga dari komunitas etnis minoritas, tapi keluarga dari seluruh komunitas yang terjebak dalam perilaku keji ini. Tidak ada alasan untuk itu," katanya kepada BBC. Boutcher menambahkan bahwa 200 personel tambahan akan dikerahkan dan layanan bus serta kereta dihentikan lebih awal demi keamanan.
Keluarga korban, Ogilvie, justru meminta agar kekerasan dihentikan. Dalam pernyataan resmi, mereka menegaskan bahwa imigran "memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi negara kami" dan tidak ingin tragedi ini digunakan untuk memecah belah masyarakat. Namun, seruan itu tidak diindahkan. Video penusukan yang viral di media sosial dimanfaatkan oleh aktivis anti-imigrasi untuk memobilisasi massa. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut serangan itu "memuakkan," tetapi memperingatkan bahwa kekerasan terhadap kelompok tertentu tidak akan ditoleransi.
Menteri Kehakiman Irlandia Utara, Naomi Long, menuding para agitator media sosial yang "kemarin saja kesulitan menemukan Belfast di peta" telah mempersenjatai ketakutan warga lokal. "Jika Anda mengusir orang dari rumah mereka hanya karena warna kulit, itu rasis. Tidak ada cara lain untuk membungkusnya," tegasnya.
Kerusuhan ini kembali membuka luka lama soal perbatasan Irlandia. Beberapa politisi menyerukan peninjauan ulang perbatasan terbuka antara Irlandia Utara (bagian dari Inggris) dan Republik Irlandia. Perbatasan yang longgar merupakan pilar utama proses perdamaian yang mengakhiri The Troubles—konflik selama tiga dekade yang menewaskan hampir 3.600 orang. Sebagian besar kekerasan Selasa terjadi di daerah kelas pekerja di mana mantan kelompok paramiliter masih memiliki pengaruh kuat.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat betapa cepatnya sentimen anti-imigran dapat meledak akibat satu tindakan kriminal, terutama ketika dikombinasikan dengan provokasi daring. Di tengah meningkatnya tensi politik global dan isu pengungsi, pemerintah Indonesia perlu mencermati bagaimana narasi kebencian dapat menyebar dan memicu kekerasan komunal, termasuk potensi dampaknya terhadap stabilitas di kawasan.
Pertanyaan yang tersisa: mampukah pemerintah Inggris dan otoritas Irlandia Utara meredam eskalasi tanpa mengorbankan prinsip keterbukaan perbatasan yang telah menjadi fondasi perdamaian? Atau, akankah insiden ini menjadi titik balik yang memperkuat suara-suara anti-imigrasi di seluruh Inggris?



