Fajar/Fikri Pertahankan Gelar China Open: Momentum Kebangkitan Ganda Putra?
Baca dalam 60 detik
- Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menjuarai China Open 2026 untuk kedua kalinya beruntun setelah menaklukkan pasangan Korea Selatan dalam tiga gim.
- Prestasi ini diharapkan memacu regenerasi sektor ganda putra Indonesia yang tengah menghadapi persaingan ketat dari China dan Korea.
- Pasangan nomor satu Indonesia itu menargetkan konsistensi di sisa turnamen BWF, termasuk Kejuaraan Dunia.

Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri sukses mempertahankan gelar juara China Open untuk kedua kalinya berturut-turut, sekaligus menegaskan posisi mereka sebagai tumpuan utama sektor ganda putra Indonesia yang tengah mencari momentum kebangkitan.
Dalam final yang berlangsung di Pusat Olahraga Olimpiade Changzhou, Minggu (7/9/2026), Fajar/Fikri mengalahkan ganda Korea Selatan Kim Won Ho/Seo Seung Jae dengan skor 16-21, 21-19, 21-19. Kemenangan ini menjadi yang kedua beruntun di turnamen Super 1000 tersebut setelah tahun lalu mereka juga keluar sebagai juara.
Pertandingan berlangsung sengit dengan tempo cepat. Fajar mengakui stamina terkuras habis menghadapi lawan yang merupakan ganda nomor satu dunia. Namun, koordinasi apik dengan Fikri menjadi faktor penentu. "Mereka bermain sangat mati-matian, berani mencoba semuanya. Saya berterima kasih pada Fikri yang menutup semua celah di lapangan," ujar Fajar seusai laga.
Kemenangan ini memiliki arti penting di tengah dinamika persaingan ganda putra Asia. China dan Korea Selatan terus melahirkan pasangan-pasangan baru yang tangguh, sementara Indonesia masih mengandalkan Fajar/Fikri sebagai andalan utama. Fikri berharap gelar ini memotivasi junior-junior untuk menembus papan atas. "Setelah pulang, kami akan segera melakukan persiapan intensif untuk turnamen berikutnya, termasuk Kejuaraan Dunia," katanya.
Dari sisi strategi, keberhasilan Fajar/Fikri memberikan harapan bagi regenerasi sektor ganda putra. PBSI selama ini gencar memunculkan pasangan muda, namun belum ada yang konsisten menembus 10 besar dunia. Fajar berharap prestasi ini bisa menjadi contoh. "Semoga junior-junior kami termotivasi untuk terus mengejar dan menempel ranking kami, sehingga ke depan tidak hanya dua pasangan yang di level atas, tapi tiga, empat, bahkan lima," tuturnya.
Namun, tantangan masih menanti. Sektor ganda putra Indonesia belum memiliki cukup kedalaman skuad seperti era Hendra/Ahsan atau Kevin/Marcus. Regenerasi berjalan lambat, dan persaingan dengan China serta Korea makin ketat. Jika Fajar/Fikri mampu konsisten di puncak, mereka bisa menjadi fondasi kebangkitan. Pertanyaan selanjutnya: akankah prestasi ini diikuti oleh pasangan-pasangan lain, atau justru menjadi euforia sesaat?



